Rabu, 27 Mei 2020

Agama dan otak



Ada pengalaman menarik dari setiap perjalanan keberagamaan seseorang.tak dapat di pungkiri lagi bahwa agama memiliki fungsi nyata dalam interaksi sosial, setidaknya sebagai rujukan etis yang dapat menjadi standar perilaku moral dalam penentuan nilai atas tindakan sekelompok orang atau bahkan tindakan seseorang.

Agama dapat secara evolutif maupun revolutif merubah kepribadian seseorang. Mulai dari cara pandangnya sampai gaya hidup; pola tidurnya, cara ia memakan (apakah ia memakan dengan sendok atau mengunakan tiga jari), gosok gigi(apakah ia mengunakan siwak atau sikat gigi) cara berbusana(apakah ia cingrang atau sarungan) dan apakah ia akan jadi pemarah ataukah peramah. Semua orang menjadi pintar seketika dan menjadi bebal seketika karena cara memahami agama.

Seseorang bisa saja awalnya pemabuk kelas kakap, tapi karena mendapat hidayah ia akhirnya merubah kebiasaannya dan menjadi pengiat literasi. Tetapi dilain sisi, seseorang bisa mengalami defisit orientasi dalam hidupnya dan berujung aksi bom bunuh diri atau menjadi teroris. Atau menjadi hakim yang membawa palu vonis sesat wal kafir.

Sebelum kita membahas lebih jauh, saya hendak mengantar pembaca pada suatu cerita yang masyhur dan tentunya anda pasti sudah pernah mendengarnya. Katakanlah cerita thomas alva edison, seorang penemu lampu yang berkat penemuannya kita bisa menikmati terangnya malam.

“Putra Anda anak yang bodoh. Kami tidak mengizinkan anak Anda bersekolah lagi,”

Demikian isi surat dari sekolah yang dirahasikan ibunda thomas seumur hidupnya. Ketika thom kecil bertanya apa isi suratnya, ibunda kinasihnya menjawab:

“Kamu anak yang jenius nak, sekolah belum cukup baik untuk mendidik anak yang hebat seperti kamu.  Mulai saat ini ; ibu yang akan mendidik kamu"

Thom putus sekolah dan ia terpaksa menjalani homeschooling. Dimana ibunya sendiri yang jadi wali kelasnya. Ibunda kinasih tak sampai hati membacakan isi surat sebenarnya. Namun siapa menyangka dengan tangan dingin seorang ibu yang mendidik dengan tulus dan penuh cinta. Itulah yang membuat otak thom yang pas-pasan menjadi pribadi yang jenius. Dengan cinta, seorang idiot menjadi raksasa saintis. Hidup dengan penuh cinta, dapat membuat neuron atau otak seseorang jauh lebih melejit daripada hidup dengan penuh amarah dan penuh kebencian serta ketakutan.

Dalam salah satu penelitian seorang neurosains, ia berpendapat bahwa agama bisa membuat otak manusia menjadi sehat dan dapat membuat otak manusia mengalami kebekuan atau kerusakan saraf. Kapan agama menghambat pertumbuhan saraf?ketika agama dipahami dalam kerangka yang menakutkan: menebar permusuhan, teror dan penuh dengan kebencian. Tuhan yang dipahami adalah Tuhan sebagai momok yang menakutkan.

Selamatkan otak anda dengan selalu menjangkarkan diri pada Tuhan yang welas asih, yang kasih sayangNya mengalahkan murkaNya, Tuhan yang Maha pengertian, kala dikau berdosa, Ia selalu mendahului memaafkanmu bahkan sebelum engkau menengadahkan tangan memohon ampunanNya. Berakhlak seperti akhlak Tuhan, memaafkan saudaramu bahkan sebelum ia meminta maaf. Selamatkan otakmu dengan menebar kasih sayang sesama manusia, apapun agama, mazhab, suku dan rasnya.

Alexander agung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar