Tampilkan postingan dengan label Filsafat Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Januari 2021

NILAI TINDAKAN

 

"...Perbuatan yang bernilai adalah perbuatan yang memiliki dua unsur kebaikan; husnul fa'il dan husnul fi'il.

Para filosof muslim menyebut husnul fa'il sebagai tendensi (niat, iman) baik pelaku dalam melakukan perbuatan baik. Dan sebaik-baik tendensi adalah tendensi ketuhanan, qurb ilallah. 


Adapun husnul fa'il adalah perbuatan baik pada umumnya, semisal bangun jembatan, jalan tol,  RS dst. 


Tanpa dua unsur tersebut, perbuatan tidak akan bernilai, tidak akan meyempurnakan jiwa pelakunya. Menipu rakyat dengan tendensi qurb ilallah, dan juga menolong rakyat dengan tendensi qurb ilannas, adalah perbuatan yang nirnilai. Sebab, yang pertama adalah su'ul fi'il + husnul fa'il. Sedang yang kedua adalah husnul fi'il + su' ul fa'il. Hasil keduanya adalah NOL. 


Boleh jadi, perbuatan yang baik (husnul fi'il)  memberikan manfaat bagi orang lain, namun belum tentu memberikan manfaat bagi perfeksi jiwa pelakunya. Membangun jalan tol tentu bermanfaat bagi orang lain, tapi jika dilakukan dengan tendensi pencitraan, maka jiwa pelakunya akan kehilangan jalan tol menuju langit. Jiwanya akan terjebak macet di dunia.


Begitu juga dengan seabrek pelayanan pada masyarakat, akan kehilangan nilai bila dilandasi kepongahan dengan mengingkari hal-hal transenden, utamanya eksistensi Tuhan.


Unsur 'husnul fa'il' inilah yang membedakan humanitas transenden dengan humanitas imanen, humanitas Syariatian dengan humanitas Marxian. Tentu berbeda nilainya, mereka yang melayani kemanusiaan dengan tendensi ketuhanan, dan mereka yang melayani kemanusiaan dengan tendesi kemanusiaan. Yang satu meyakini kemendasaran Tuhan (asholatul haq). Yang lainnya meyakini kemendasaran manusia (asholatunnas).Nilainya tak akan sama.


Husnul fa'il hanya mungkin dimiliki oleh mereka yang memiliki pandangan dunia Ilahi. Kualitas husnul fa'il ditentukan oleh kedalaman makrifatullah. Semakin dalam anda mengenal Tuhan, maka iman, niat dan keikhlasan anda pun akan semakin mendalam.


Husnul fi'il (perbuatan baik) tanpa husnul fa'il (tendensi yang baik) itu adalah mereka yang memberi materi pada orang lain, namun tidak mengambil non materi darinya. Juga, mereka yang berbuat baik pada orang lain, namun tidak berbuat baik pada diri mereka sendiri; kebaikan yang mereka lakukan tidak menyempurnakan diri mereka sendiri, tidak menerbangkan jiwanya menuju kedekatan Ilahi. Sungguh rugi.  Ata'murunanannasa bil birri, wa tansauna anfusakum. Begitu firman-Nya (02;44).


Perbuatan baik tanpa tendensi yang baik, adalah perbuatan nir nilai yang dibalut dengan jubah yang indah. Zayyana lahum asy-syaitonu a'malahum (An-nahl 63, Al-an'am 43 dll). Mereka merasa cukup dengan sekedar melakukan perbuatan baik, dan mengabaikan urgensi iman..."


(Filsafat Harmonisasi, hal 93-99)

~Alfit Lyceum

#salamharmonisasi

#filsafatharmonisasi

Kamis, 29 Oktober 2020

Filsafat Ketauhidan Pancasila

Tauhid adalah cerita tentang keragaman dan ketunggalan. Tanpa keragaman dan ketunggalan, tauhid menjadi nirmakna. Seperti taktsir, yang juga cerita tentang ketunggalan dan keragaman. 


Tauhid yakni melihat keragaman sebagai hal yang tunggal. Ketunggalan dalam keragaman. Alam bukan keragaman yang tercerai-berai. Alam adalah keragaman yang terajut dalam bingkai ketunggalan. Ada ketunggalan yang meniscayakan setiap entitas saling terhubung satu dengan yang lainnya, dan kita sebut dengan relasi eksistensial. 


Intinya, tauhid yakni memandang tunggal yang plural. Sedang taktsir sebaliknya, yaitu memandang plural yang tunggal. Tauhid adalah tunggal dalam plural, sedang taktsir adalah plural dalam tunggal.


Dalam bingkai keindonesiaan, kita ketahui Indonesia bukan negara satu warna. Indonesia adalah negara ragam warna. Namun, ragam warna yang menghiasi Indonesia bukan keragaman yang tercerai-berai. Indonesia adalah keragaman yang saling terhubung, adalah keragaman yang menunggal. Dan benang yang menghubungkan ragam warna dalam Indonesia, kita kenal dengan nama PANCASILA yang bersemboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA; yaitu banyak dalam satu, satu dalam banyak. 


Oleh karena itu, pancasila adalah cerita tentang pluralitas dan unitas. Tanpa pluralitas dan unitas, Pancasila akan kehilangan makna, Indonesia akan runtuh. Dan yang tersisa, hanyalah ragam warna yang saling terpisah dan tercerai-berai. Tauhid pancasila yakni memandang Indonesia sebagai bangsa yang satu dalam keragaman. Atau, sebagai bangsa yang beragam, namun satu.


Maka, segala upaya yang dapat menghilangkan kesatuan yang beragam, serta upaya pemaksaan warna, adalah agenda-agenda yang bertentangan dengan ketauhidan pancasila, yang disebut dengan kafir keindonesiaan.


Kafir keindonesiaan adalah memaksakan satu warna, entah itu warna Islam atau warna-warna yang lain. Kafir keindonesiaan juga bermakna mengoyak tenun kebangsaan, menjadikan Indonesia sebagai bagian-bagian yang tercerai-berai tanpa dimensi ketunggalan. Mereka yang kafir keindonesiaan mesti dihukum, sesuai dengan hukum yang berlaku.


Dimensi ketauhidan pancasila juga dapat dilihat dalam kelima silanya. Lima sila pancasila bukan sila-sila yang saling bertentangan, bukan keragaman tanpa keterhubungan. Lima sila pancasila adalah lima yang hakikatnya satu. Kelimanya, saling terkait satu dengan yang lain. 


Dengan kata lain, Sila kedua hingga sila kelima adalah turunan dan perwujudan dari sila pertama. Yakni, dalam perspektif keindonesiaan, engkau belum berketuhanan yang maha esa, jika engkau tidak menegakkan kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan sosial.


Sila pertama adalah ruh tunggal yang mengalir dalam empat sila di bawahnya. Karena itu, kemanusiaan atau humanisme (sila kedua) Indonesia bukan humanisme imanen. Melainkan humanisme transenden, dimana setiap rakyatnya saling melayani satu dengan yang lain, sebagai wujud penghambaan kepada Tuhan. 


Persatuan Indonesia juga bukan persatuan tanpa nilai. Apalah artinya bersatu, bila untuk menjajah bangsa lain. Penjajahan di atas dunia, mesti dihapuskan. Persatuan Indonesia adalah persatuan dengan nafas ketuhanan, yang meniscayakan terwujudnya keadilan dan kebaikan bersama. Pun juga dengan sila demokrasi dan sila keadilan, yang berada dalam bingkai ketuhanan.


*~Alfit Lyceum*

#salamharmonisasi

#filsafatharmonisasi

Rabu, 27 Mei 2020

Ramadan Telah Berlalu? Antara Ramadan Diri dan Ramadan Bumi



Oleh: ustadz Alfit Lyceum Mei 26, 2020

Dalam filsafat, gerak adalah bahasa lain dari waktu. Tepatnya, waktu adalah ukuran gerak. Pada sisi yang lain, gerak adalah substansi entitas materi. Dengan ini, setiap entitas materi niscaya bergerak, dan memiliki waktunya sendiri-sendiri.

Waktu sebatang rokok berbeda dengan waktu secangkir kopi, berbeda pula dengan waktu entitas-entitas materi lainnya. Secara keseluruhan, bumi memiliki waktu khusus yang dihitung berdasarkan gerak bumi.

Waktu bumi semakin disederhanakan dalam hitungan-hitungan yang paling kecil. Katakanlah hitungan abad, tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit hingga detik. Pada umumnya, gerak entitas-entitas materi yang terdapat di bumi, dihitung berdasarkan waktu bumi.

Semisalkan, waktu sebatang rokok yang hanya kisaran 5 menitan, sebelum terhisap habis dan menjelma abu. 5 menit tersebut merupakan waktu bertahan rokok dalam hitungan waktu bumi. Hakikatnya, wujud rokok memiliki waktunya sendiri yang identik dengan gerak wujudnya.

Ramadan adalah salah satu ukuran gerak bumi dalam hitungan bulan. Dengan kata lain, dalam setahun, bumi memiliki 12 bulan. Ramadan adalah salah satunya. Ramadan bumi tentu akan berlalu, meninggalkan semua entitas bumi yang geraknya diukur dengan waktu bumi.

Tak terkecuali kita umat Islam yang diwajibkan berpuasa di bulan Ramadan. Pada akhirnya, Ramadan akan meninggalkan semua kita. Sedih? Yah, bersedihlah bila Ramadan berlalu, dan anda gagal beroleh gelar taqwa. Tapi bila anda lulus dari madrasah Ramadan dengan gelar taqwa, bergembiralah. Terlebih lagi, “setiap bulan adalah bulan Ramadan dan setiap hari adalah hari puasa” dapat diwujudkan di sepanjang hayat.

Berikut penjelasannya.

Sebagai salah satu entitas materi, manusia pastilah bergerak. Artinya, karena waktu adalah ukuran gerak, maka setiap manusia memiliki waktu khususnya sendiri. Waktu saya dan setiap kita tidaklah sama. Semua tergantung bagaimana, kemana dan seperti apa gerak yang kita lakukan.

Dari sini dipahami, bahwa Ramadan memiliki dua jenis. Ada Ramadan eksternal, yaitu Ramadan bumi yang sesuai dengan gerak bumi. Adapula Ramadan internal, yaitu Ramadan diri yang sesuai dengan gerak diri. Ramadan bumi baru saja berlalu. Namun Ramadan diri, semestinya, baru saja terbentuk.

Saya tulis “semestinya”, sebab dengan berlalunya Ramadan bumi, Ramadan diri tidak serta merta terbentuk. Alasannya, Ramadan diri adalah hasil bentukan dan capaian ikhtiari. Ramadan bumi, dengan segala ritual yang diwajibkan dan yang sangat dianjurkan di dalamnya, adalah masa-masa latihan pembentukan Ramadan diri.

Dengan ini, setiap manusia, tak terkecuali non muslim, berpotensi memiliki Ramadan diri. Juga, tidak semua manusia, bahkan, tidak semua umat Islam, memiliki Ramadan diri. Sebab sekali lagi, Ramadan diri adalah hasil bentukan dan capaian ikkhtiari. Ada yang mencapainya, ada pula yang tidak.

Lantas, apa Ramadan diri itu? Ramadan diri adalah terhiasinya diri dengan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan konsitensi di atas gerak harmonisasi. Yaitu, meniti jalan kesucian diri, penghambaan pada wujud yang layak diperTuhan, serta pengkhidmatan pada sesama hamba.

Menghidupkan malam lailatul qadr bukan bermakna menghidupkan waktu malam bumi. Makna hakikinya adalah, seperti kata Muthahhari, menghidupkan “diri hakiki” dan meredam “diri imitasi”. Diri hakiki manusia adalah dimensi kemanusiaan (insaniah) manusia, sedang diri imitasi manusia adalah dimensi kehewanan (hewaniah) manusia.

Berdasarkan ini, bisa dikatakan, Ramadan diri anda tidak mengada, bila anda mematikan dimensi kemanusiaan anda, mematikan cinta, empati, welas-asih dan spirit pengorbanan dalam diri anda. Ramadan diri anda tidak menyata, bila anda menghamba pada sesama hamba, atau menjadi “tuhan” bagi hamba.

Kala itu, anda bukan hanya kehilangan Ramadan bumi, tapi juga kehilangan Ramadan diri. Dan ini adalah tanda matinya diri hakiki anda, dan hidupnya diri imitasi anda. Artinya, anda telah kehilangan diri anda. Kata Ali bin Abi Tholib, aku heran pada orang-orang yang mencari barang mereka yang hilang, tapi tak pernah mencari diri mereka yang hilang.

Walhasil, Ramadan bumi disia-siakan, bila Ramadan diri tak terbentuk. Hanya dengan membentuk Ramadan diri, diri akan keluar dari ramadan bumi dengan gelar taqwa. Hanya dengan membentuk Ramadan diri, diri kembali fitri. Dan itulah hari raya. Hari raya adalah setiap hari yang dilalui tanpa eksploitasi, kata Ali bin Abi Tholib. Inilah makna, setiap bulan adalah bulan ramadan, setiap hari adalah hari puasa.

Agama dan otak



Ada pengalaman menarik dari setiap perjalanan keberagamaan seseorang.tak dapat di pungkiri lagi bahwa agama memiliki fungsi nyata dalam interaksi sosial, setidaknya sebagai rujukan etis yang dapat menjadi standar perilaku moral dalam penentuan nilai atas tindakan sekelompok orang atau bahkan tindakan seseorang.

Agama dapat secara evolutif maupun revolutif merubah kepribadian seseorang. Mulai dari cara pandangnya sampai gaya hidup; pola tidurnya, cara ia memakan (apakah ia memakan dengan sendok atau mengunakan tiga jari), gosok gigi(apakah ia mengunakan siwak atau sikat gigi) cara berbusana(apakah ia cingrang atau sarungan) dan apakah ia akan jadi pemarah ataukah peramah. Semua orang menjadi pintar seketika dan menjadi bebal seketika karena cara memahami agama.

Seseorang bisa saja awalnya pemabuk kelas kakap, tapi karena mendapat hidayah ia akhirnya merubah kebiasaannya dan menjadi pengiat literasi. Tetapi dilain sisi, seseorang bisa mengalami defisit orientasi dalam hidupnya dan berujung aksi bom bunuh diri atau menjadi teroris. Atau menjadi hakim yang membawa palu vonis sesat wal kafir.

Sebelum kita membahas lebih jauh, saya hendak mengantar pembaca pada suatu cerita yang masyhur dan tentunya anda pasti sudah pernah mendengarnya. Katakanlah cerita thomas alva edison, seorang penemu lampu yang berkat penemuannya kita bisa menikmati terangnya malam.

“Putra Anda anak yang bodoh. Kami tidak mengizinkan anak Anda bersekolah lagi,”

Demikian isi surat dari sekolah yang dirahasikan ibunda thomas seumur hidupnya. Ketika thom kecil bertanya apa isi suratnya, ibunda kinasihnya menjawab:

“Kamu anak yang jenius nak, sekolah belum cukup baik untuk mendidik anak yang hebat seperti kamu.  Mulai saat ini ; ibu yang akan mendidik kamu"

Thom putus sekolah dan ia terpaksa menjalani homeschooling. Dimana ibunya sendiri yang jadi wali kelasnya. Ibunda kinasih tak sampai hati membacakan isi surat sebenarnya. Namun siapa menyangka dengan tangan dingin seorang ibu yang mendidik dengan tulus dan penuh cinta. Itulah yang membuat otak thom yang pas-pasan menjadi pribadi yang jenius. Dengan cinta, seorang idiot menjadi raksasa saintis. Hidup dengan penuh cinta, dapat membuat neuron atau otak seseorang jauh lebih melejit daripada hidup dengan penuh amarah dan penuh kebencian serta ketakutan.

Dalam salah satu penelitian seorang neurosains, ia berpendapat bahwa agama bisa membuat otak manusia menjadi sehat dan dapat membuat otak manusia mengalami kebekuan atau kerusakan saraf. Kapan agama menghambat pertumbuhan saraf?ketika agama dipahami dalam kerangka yang menakutkan: menebar permusuhan, teror dan penuh dengan kebencian. Tuhan yang dipahami adalah Tuhan sebagai momok yang menakutkan.

Selamatkan otak anda dengan selalu menjangkarkan diri pada Tuhan yang welas asih, yang kasih sayangNya mengalahkan murkaNya, Tuhan yang Maha pengertian, kala dikau berdosa, Ia selalu mendahului memaafkanmu bahkan sebelum engkau menengadahkan tangan memohon ampunanNya. Berakhlak seperti akhlak Tuhan, memaafkan saudaramu bahkan sebelum ia meminta maaf. Selamatkan otakmu dengan menebar kasih sayang sesama manusia, apapun agama, mazhab, suku dan rasnya.

Alexander agung

Pandangan Dunia dan Ideologi

Pandangan Dunia dan Ideologi

"...Berbagai ideologi merupakan hasil dari berbagai pandangan dunia. Sandaran dan dasar dari berbagai ideologi adalah berbagai bentuk pandangan dunia. Pandangan dunia ialah bentuk dari sebuah kesimpulan, penafsiran, hasil kajian, yang ada pada seseorang berkenaan dengan alam semesta, manusia, masyakat dan sejarah.

Berbagai golongan dan individu memiliki pandangan dunia yang saling berbeda-beda. Jika pandangan dunia saling berbeda, maka ideologi pun akan saling berbeda.

Ideologi menentukan sederetan perintah dan larangan; sebuah fakultas yang mengajak manusia pada suatu tujuan tertentu, serta menunjukkan jalan yang dapat menghantarkan diri sampai pada tujuan tersebut.

Ideologi akan menentukan mengenai kita seharusnya bagaimana, kita harus hidup yang bagaimana, kita harus menjalin relasi yang bagaimana, bagaimanakah kita membina dan membangun masyarakat kita hari ini. Ideologi yang menentukan semua permasalahan itu..."

*~Murtada Muthahhari*
(Pengantar Epistemologi)

#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi
Agama dan Ideologi

Agama adalah sistem hidup paripurna yang bersumber dari Sesempurnanya Wujud, sebagai pedoman dan jalan hidup manusia menuju kesempurnaan diri. Dengan ini, agama meliputi seluruh dimensi hidup manusia, dari bangun tidur, hingga tidur lagi. Dalam bahasa agama, gerak yang sesuai dengan sistem hidup (agama) disebut dengan gerak ibadah, yang merupakan tujuan penciptaan manusia.

Dengan kata lain, agama adalah ajaran komprehensif yang meliputi dimensi teoretis dan juga dimensi praktis. Dalam filsafat, dimensi teoretis disebut dengan pandangan dunia, sedang dimensi praktis disebut dengan ideologi. Dan dalam bahasa agama, pandangan dunia adalah ushuluddin, sedang ideologi adalah furu'uddin. Karena itu, terdapat pandangan dunia agama, terdapat pula ideologi agama, yang tentu berbeda dengan pandangan dunia dan ideologi-ideologi lain.

Pandangan dunia adalah sekumpulan ide yang dianggap ideal tentang hakikat realitas. Pandangan dunia berbicara tentang apa yang ada, dan apa yang tiada. Sedangkan ideologi adalah sekumpulan ide tentang nilai yang dianggap ideal. Ideologi berbicara tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan.

Pandangan dunia adalah bingkai paradigma, sedang ideologi adalah bingkai tindakan. Ideologi adalah turunan dari pandangan dunia. Karena itu, corak ideologi senantiasa secorak dengan pandangan dunia. Ideologi materialis merupakan turunan dari pandangan dunia materialis. Pun juga, ideologi agama merupakan turunan dari pandangan dunia agama.

Sederhananya, dalam ideologi anda tidak akan ditemukan nilai dan anjuran untuk ibadah, jika dalam pandangan dunia anda tidak ada keyakinan terhadap Tuhan. Juga, ideologi anda tidak akan menganjurkan anda tuk menyiapkan bekal akhirat, manakala pandangan dunia anda menegasi adanya kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Sebaliknya, jika pandangan dunia anda adalah pandangan dunia agama; pandangan dunia yang mengafirmasi adanya Tuhan, nabi, akhirat, dan dimensi batin dari yang zahir, maka sudah pasti dalam ideologi anda berisi panduan gerak agamis; yairu gerak penghambaan, gerak yang perlahan mendekatkan diri pada Tuhan Sesempurnya Wujud, dan itulah gerak harmonisasi. Sebab, gerak eksploitasi, tak relevan dengan ketuhanan.

Dengan ini, bila ditemukan penganut agama yang bertindak eksploitatif, apatah lagi atas nama agama, pastilah ia hanya berpura-pura berideologi dan berpandangan dunia agama.

Walhasil, jika ditanya apa hubungan agama dan ideologi, jawab nya yaitu, ideologi itu khusus, sedang agama itu umum. Dalam agama, terdapat ideologi, disamping pandangan dunia.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi
Pandangan Dunia Filosofis

Pandangan dunia adalah sehimpun keyakinan ihwal realitas. Pandangan dunia berbicara tentang apa yang ada, dan apa yang tiada, apa yang hakiki dan apa yang non hakiki, apa yang substansial dan apa yang non substansial.

Pandangan dunia merupakan turunan dari bangunan epistemologi. Yakni, instrumen pengetahuan yang dijadikan sebagai raja pengetahuan akan membentuk neraca kebenaran, yang kemudian membingkai tafsiran kita atas realitas. Dengan ini, pandangan dunia seseorang secorak dengan instrumen pengetahuan yang dijadikannya sebagai raja pengetahuan.

Bila anda meyakini indra sebagai raja pengetahuan, niscaya anda akan memandang dunia sebagai materi semata. Di luar materi, tak ada lagi keberadaan. Semua cerita tentang surga, neraka dan fenomena² pasca kematian, hanyalah dongeng semata.

Sebaliknya, jika yang menjadi raja pengetahuan adalah akal, maka anda akan mencari realitas non materi di balik realitas materi. Kata akal, realitas tidak equal dengan materi. Ada bentangan eksistensi yang lain, selain alam materi. Saat itu, akan lahir kerinduan untuk menjalin relasi dan bercengkerama dengan wujud² lain selain wujud materi.

Lantas, apa yang dimaksud dengan filsafat? Filsafat adalah ilmu rasional, ilmu yang menjadikan akal sebagai raja pengetahuan. Dengan akal, filsafat ingin menyingkap hakikat realitas. Hasil singkapan tersebut dinamakan dengan pandangan dunia filsafat. Yaitu, pandangan dunia yang dibangun dengan akal, melalui ilmu filsafat.

Kita mengenal dua jenis filsafat, filsafat teoretis dan filsafat praktis. Filsafat teoretis berbicara ihwal apa yang ada dan apa yang tiada, sedang filsafat praktis berbicara apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan. Filsafat teoretis melahirkan pandangan dunia filsafat, sedang filsafat praktis menyuguhkan ideologi filsafat. Dengan ini, filsafat memberikan pandangan dunia dan juga ideologi yang tentu berbeda dengan pandangan dunia dan ideologi selain filsafat.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

MAKA DEKLARASIKAN KEHAMBAANMU


Selama engkau berpijak pada ciptaan-Nya, adakah alasan tuk tidak menyembah-Nya?

Selama engkau berada dalam pengawasan-Nya, adakah alasan tuk tidak mematuhi-Nya?

Carilah tempat berpijak yang bukan ciptaan-Nya. Carilah waktu dimana engkau luput dari pengawasan-Nya

Jika kau temukan, maka engkau bebas untuk tidak menyembah-Nya, engkau boleh membangkang-Nya.

Tapi bila tak kau temukan, dan niscaya tak akan kau temukan, maka deklarasikan kehambaanmu.

Hiduplah sebagai hamba yang hanya menghamba pada yang layak diperTuhan. Jangan menghamba pada sesama hamba. Jangan menuhankan diri dan menghambakan yang lain.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Kamis, 05 September 2019

FILSAFAT SIMBOL

Dalam Logika, simbol merupakan dilalah wadh'iyyah ghoiru lafziyah. Yaitu, dilalah yang terlahir dari hasil kesepakatan, dan bukan kata. Dalam dilalah ini, relasi antara dal (simbol) dan madlul (yang disimbolkan) tidak bersifat niscaya, tidak pula universal.

Tidak niscaya yakni, tidak selamanya A menyimbolkan realitas B. Adakalanya, A menyimbolkan realitas C, D dll. Sedang tidak universal yakni, tidak berlaku secara sama di setiap daerah. Sebab simbol, mengikuti hasil kesepakatan. Dan kesepakatan, tidak mesti sama di setiap tempat dan daerah.

Itulah mengapa, simbol segitiga tidak selamanya menyimbolkan realitas sistem dajjal. Pun juga, sistem dajjal tidak melulu disimbolkan dengan segitiga. Mengapa? Sebab segitiga merupakan dilalah wadh'iyyah ghoiru lafziyah, yang mengikuti hasil kesepakatan. Dengan ini, tidak perlu panik dan menjustis mereka yang mengenakan simbol segitiga sebagai pengikut sistem dajjal.

Juga, boleh jadi dalam satu aliran sufistik, cinta Tuhan disimbolkan dengan manisnya minuman anggur. Menenggak anggur di kedai minuman, berarti mencicipi manisnya cinta Tuhan. Namun, dalam aliran yang lain, boleh jadi berbeda. Bahkan kadang, anggur bukan lagi menjadi simbol, tapi berposisi sebagai realitas yang disimbolkan dengan gambar orang tua.

Namun demikian, satu hal yang pasti dari simbol adalah adanya realitas yang ingin disampaikan dari sebuah simbol. Dengan melihat simbol, pikiran semestinya memahami realitas yang disimbolkan. Jangan terjebak pada simbol, singkaplah setiap makna yang bersemayam dalam simbol. Begitu kira².

Jika ditanya, apa pengaruh simbol terhadap gerak realitas? Maka jawabnya, dengan adanya simbol, realitas akan semakin memisteri. Saat itu, manusia akan terbagi dua, mereka yang terjebak pada simbol, dan mereka yang berusaha melampaui simbol dengan mencoba melihat substansi realitas di balik simbol. Pun juga, dengan memahami jenis dilalah simbol, bahwa simbol adalah dilalah kesepakatan, maka tentu kita akan terhindar dari penilaian yang terburu-buru.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Sabtu, 17 Agustus 2019

BEBAS ATAU TERTAWAN

Terkadang kita melihat ada orang yang ditahan, namun sesungguhnya ia bebas dan merdeka. Ada pula orang yang bebas, namun sesungguhnya ia tertahan. Oleh karena itu, kita harus memaknai arti ‘bebas dan merdeka’ sebelum mengevaluasi diri; bebas atau tertawan kah kita.

Pada dasarnya ‘bebas’ memiliki arti ‘ketidakbutuhan’ pada segala sesuatu. Karena itu, bebas juga bermakna kekayaan. Kekayaan bukan bermakna memiliki segalanya, tetapi bermakna tidak butuh pada segalanya. Semakin tidak butuh manusia, semakin kaya dan bebas dirinya.Sebaliknya, semakin butuh manusia, semakin miskin dan terpenjara dirinya.

Dengan ini, kebebasan mutlak hanya milik Tuhan semata. Kebebasan yang dimiliki manusia adalah kebebasan semu, kebebasan dalam ketertawanan. Ia bebas dari satu hal, dan tertawan pada hal lainnya.

Hal ini yang mendorong Psikolog eropa Erick From untuk menulis buku “fear of freedom” yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “lari dari kebebasan”. Erick From meyakini, kebebasan adalah kemustahilan bagi manusia. Karena itu, kita harus lari dari kebebasan menuju ketertawanan. Tapi, ketertawanan yang mulia, yaitu ketertawanan pada kesempurnaan.

Mufassir dan filsuf besar Muslim Allamah Thobathobai mengatakan, manusia itu bebas,, namun tidak mandiri. Hal ini juga menyiratkan kebebasan semu manusia, kebebasan dalam ketertawanan. Yakni, manusia tidak mampu mengelola kebebasannya. Olehnya itu, ia harus menawankan dirinya pada wujud lain di luar dirinya, yang bisa mengarahkan gerak kebebasannya dengan benar.

Manusia-manusia yang bebas adalah mereka yang mengetahui kepada siapa dirinya harus tertawan dan menyerahkan gerak kebebasan semunya. Setelah mereka menemukan tempat bersandar itu, maka pada hakikatnya, mereka adalah orang-orang yang bebas, meskipun dirinya berada dalam kerangkeng penjara.

Namun sebaliknya, ketika mereka tidak menemukan sandaran hakiki itu, dan justru menjadikan hal-hal yang tidak hakiki sebagai sandaran, niscaya mereka adalah orang-orang yang terpenjara, kendatipun dirinya berkeliaran di alam bebas.

Inilah hakikat yang diisyaratkan Tuhan dalam kitabNya, "Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan/iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in".

Manusia merdeka adalah mereka yang mampu merealisasikan ayat di atas. Yakni, mereka yang menawankan dirinya pada Pemiliknya dan menjadi hamba-Nya. Mereka yang tidak menghamba pada sesama hamba.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Buku bagaikan minuman bagi jiwa, tapi sebagian minuman berbahaya. (Sayyid ali khamenei).



Buku adalah jelmaan penulis dan penulis adalah manusia. Sebagian manusia itu berbahaya, mengajak pada degradasi jiwa, sebagian yang lain menentramkan dan menghantarkan jiwa pada kesempurnaan. Maka begitu pula dengan buku.

Rasul Saw adalah kitab pencerahan dan harmonisasi. Abu Lahab adalah kitab pembodohan dan eksploitasi. Perhatikan kitab diri, jangan sampai diri adalah kitab pembodohan yang terus-menerus mempertontonkan kebodohan pada orang².

Membaca bukan tentang seberapa banyak buku yang dibaca, tapi tentang buku apa yang dibaca. Apakah buku yang memanjakan perasaan, mematikan nalar kritis, atau buku yang mengembangkan akal.
*Alfit Lyceum

FILSAFAT, LOGIKA & EPISTEMOLOGI

 Selain memiliki tujuan, setiap disiplin ilmu juga memiliki objek kajian dan instrumen atau metode kajian. Diantara 8 pilar disiplin ilmu, para cendekia klasik menyebut ketiga hal ini (objek, instrumen dan tujuan) sebagai pilar esensial sebuah disiplin ilmu. Betapa tidak, disiplin ilmu terbedakan secara esensial dengan yang lainnya, berkat ketiga atau salah satu dari ketiga pilar tersebut.

Sosiologi, Antropologi dan Psikologi misalnya, kendatipun seobjek (sama² mengkaji manusia) & semetode (empirik), namun berbeda dari sisi tujuan dan tinjauan terhadap objek kajian. Sosiologi mengkaji manusia dari sisi relasi sosial, Antroplogi dari ranah budaya, dan Psikologi dari sisi fsikis manusia. Maka, berbeda pula tujuan yang ingin dicapai ketiganya.

Filsafat, Logika dan Epistemologi pun demikian. Sebagai disiplin ilmu, ketiganya memiliki objek, tujuan, dan instrumen/metode kajian. Telah maklum, akal dengan metode rasional adalah instrumen Filsafat, Logika dan Epistemologi. Kemudian, Logika dan Epistemologi mengkaji objek yang sama, yaitu pengetahuan, namun dari tinjauan yang berbeda. Dan pada akhirnya, meniscayakan tujuan yang juga berbeda.

Adapun filsafat, sebagai disiplin ilmu, juga tak kosong dari tiga esensi disiplin ilmu. Seperti disebutkan, akal dengan metode rasional adalah instrumen filsafat. Sedang realitas secara mutlak adalah objek kajian filsafat. Filsafat bertujuan menyingkap hakikat realitas sebagaimana realitas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Dengan kata lain, seperti kata Ibn Sina, filsafat berupaya membentuk manusia menjadi _alamun aqliun mudhohiyun lil alam al-aini_ ; yakni alam akal yang serupa dengan alam eksternal. Atau dalam bahasa filsafat kita, filsafat harmonisasi, filsafat akan membentuk diri menjadi "manusia semesta" atau "miniatur alam".

Walhasil, berfilsafat yakni berupaya menyingkap hakikat realitas sebagaimana realitas, dengan menggunakan akal. Dan itu, hanya mungkin jika;

1. Dalam proses berpikirnya, akal terhindar dari sesat-sesat nalar. Yah, hakikat realitas tak akan terpahami secara objektif, bila akal masih terjebak dalam sesat-sesat nalar. Karenanya, sebelum berfilsafat, sebelum berpikir tentang hakikat realitas, penting tuk mengkaji dan memahami logika dengan baik. Sebab logika, adalah sistem berpikir benar.

2. Neraca kebenaran dan nilai pengetahuan terpahami dengan baik. Tanpa mengetahui neraca kebenaran dengan benar, kita tak akan pernah tahu objektifitas pengetahuan yang kita miliki. Jadi, betapapun hakikat realitas telah kita singkap, tapi tak ada jaminan, apakah hasil singkapan kita objektif, atau tidak. Apalah artinya mengetahui hakikat realitas, bila ternyata pengetahuan tersebut non objektif.

Karena itu, sebelum berfilsafat, dibutuhkan sebuah ilmu yang menyajikan neraca kebenaran dan nilai pengetahuan dengan benar. Dan, ilmu tersebut adalah epistemologi.

Kesimpulannya, hakikat realitas akan terpahami dengan objektif bila kita berfilsafat dengan mengikuti sistem berpikir logis, dan dengan neraca epistemologis yang benar.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Politik Transenden; Sketsa Politik Pencerahan Khajah Thusi

Begitu buruknya citra perpolitikan dunia pada umumnya dan nusantara pada khususnya, hingga penyanyi Iwan Fals mendendangkan politik sebagai “dunia bintang, dunia hura-hura para binatang”. Deskripsi tersebut terlihat wajar mengingat logika politik yang dipertontonkan saat ini adalah logika persaingan, bukan logika pencerahan.

Dalam politik persaingan, terma kawan-lawan dan menang-kalah adalah hal yang lumrah. Hukum moral dan agama tak berkutik di bawah bayang-bayang ke-uang-an yang maha agung. Rakyat yang lugu cenderung diam, dibungkam sebungkus nasi tanpa tahu bahwa yang mereka jagokan akan mengambil seluruh lahan pertanian mereka kelak.

Tulisan sederhana ini, tidak akan mengulas kembali politik persaingan yang sudah begitu sejelas matahari. Kita semua sudah tahu, bahkan “mungkin” kita sudah merasa nyaman dengannya. Pada kesempatan ini, kita akan memperkenalkan sebuah teori politik dalam perspektif Khajah Nashiruddin Thusi.

Sedikit tentang Khajah Thusi, beliau adalah seorang teolog danfilsuf peripatetik. Menurut Henry Corbin, jika filsafat peripatetik di dunia barat telah mati, sedang di dunia timur terus berkembang, itu semua berkat jasa Khajah Thusi. Begitu juga, jika teologi Islam memiliki warna filsafat, itu semua berkat penjelasan yang diberikan beliau.

Politik dalam pandangan Khajah Thusi adalah sebuah seni dalam menyeimbangkan beragam watak dan keinginan masyarakat. Tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat, adalah kumpulan individu-individu yang memiliki watak dan keinginan yang saling berbeda. Dalam hemat Khajah, setidaknya terdapat lima watak manusia dalam masyarakat;

Pertama; watak kebaikan dan menyebarkan kebaikan. Watak ini dimiliki oleh mereka yang shaleh secara personal dan secara sosial; mereka adalah orang-orang yang baik dan kebaikannya sampai kepada orang lain.

Kedua: watak kebaikan tanpa menyebarkan kebaikan. Yaitu mereka yang menampilkan keshalehan personal tanpa keshalehan sosial. Kebaikan mereka tidak sampai pada orang lain.

Ketiga: watak yang bukan kebaikan bukan pula kejahatan. Yaitu mereka yang intensitas kebaikannya setara dengan intensitas kejahatannya.

Keempat: watak kejahatan dan menyebarkan kejahatan. Yaitu mereka yang memiliki dosa personal dan dosa sosial. Mereka adalah orang-orang jahat yang kejahatannya sampai pada orang lain.

Kelima: watak kejahatan tanpa menyebarkan kejahatan. Watak ini dimiliki oleh mereka yang gemar melakukan dosa personal namun bersih dari dosa sosial. Kejahatan mereka tidak sampai pada orang lain.

Seperti halnya dengan watak, keinginan-keinginan anggota masyarakat juga beragam. Perbedaan keinginan yang pada dasarnya merupakan cita ideal ini merupakan implikasi dari perbedaan pengetahuan. Pengetahuan yang benar akan mengantarkan manusia pada cita ideal yang hakiki. Sedang pengetahuan yang keliru akan menampilkan cita ideal ilutif pada pemiliknya.

Atas dasar ini, guna menghindari terjadinya patologi sosial yang bermuara pada punahnya spesies manusia, dibutuhkan sebuah lembaga penyeimbang ragam watak dan keinginan-keinginan masyarakat. Lembaga yang kita sebut sebagai politik ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang menguasai seni menyeimbangkan hal-hal yang tidak seimbang.

Harmonisasi berbagai watak dan cita ideal bukan berarti menyokong dan mengaktualkan beragam watak dan cita ideal yang ada. Menyeimbangkan atau harmonisasi yang dimaksud adalah mengantarkan masyarakat pada pengetahuan yang benar akan kesempurnaan sejati yang semestinya menjadi cita ideal setiap manusia. Disamping itu, masyarakat juga mendapat pengawalan agar tetap bergerak di atas jalur kesempurnaan sejati.

Sehingga, politik dalam perspektif khajah Thusi lebih bersifat sebagai lembaga pencerahan dan pendampingan masyarakat. Dengan kata lain, politik adalah lembaga pencerahan yang mengenalkan titik awal (mabda), titik akhir (ma’ad) serta posisi dan peran masyarakat di alam ini.

Politik juga menjadi lembaga pendamping dan penyedia sarana yang dibutuhkan masyarakat dalam menempuh sebaik-baik perjalanan menuju titik akhir. Semua ini dimaksudkan agar masyarakat politik beroleh kesempurnaan hakiki yang melazimkan kebahagiaan abadi.

Dari uraian di atas, dapat dipahami mengapa Khajah Thusi dalam buku akhloq-e nasheri menjadikan tema manusia sebagai tema pembuka dalam diskursus politiknya. Hal ini jelas, lantaran tujuan politik dalam hemat khajah adalah meraih kebahagiaan abadi yang terlahir dari kesempurnaan hakiki.

Oleh karena itu, kesempurnaan dan kebahagiaan manusia harus lebih dahulu jelas sebelum segala sesuatunya terjelaskan. Lantas, apa kebahagiaan dan kesempurnaan manusia menurut khajah Thusi? Bacalah buku Manajemen Politik, Perspektif Khajah Thusi.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

RASIONALITAS QURBAN

Dikisahkan, Ibrahim as diperintahkan Tuhan untuk menyembelih anaknya, Ismail as. Disampaikanlah titah itu pada si buah hati yang telah lama dinantikannya, "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”. Sang anak pun menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (As-shoffat,102).

Pada awalnya, perintah tersebut terkesan ilogis, bertentangan dengan akal dan nurani. Tuhan penyayang mana yang memerintahkan seorang ayah menyembelih anaknya. Akal dan nurani, menentang itu. Bisa dibayangkan, di usia senjanya, dikala Ibrahim begitu menantikan hadirnya si buah hati. Tapi, begitu si buah hati terlahir dan beranjak besar, tetiba ia diperintahkan untuk menyembelih si buah hati itu.

Bila ditelisik lebih dalam, tak ada yang ilogis dalam perintah Tuhan. Semua perintahnya adalah penyempurna hamba. Toh, apa yang kita miliki? Jangankan anak, wujud diri sendiri pun adalah milik dan pemberian-Nya. Adalah logis bila Sang Pemilik meminta kembali apa yang dimilikinya. Maka jangan enggan bila Dia memintamu terbunuh di medan laga. Jangan tolak bila Dia menginginkan kelestarian ajaran-Nya dengan siraman darahmu. Berikan jiwa dan ragamu sesuai ingin-Nya, itulah kesempurnaan.

Dalam perspektif sufistik, puncak cinta adalah matinya pecinta dan yang tersisa hanya kekasih semata. Tak ada aku dan Dia dalam kamus cinta. Yang ada hanya Dia. Dan itu, hanya mungkin jika pecinta menyembelih kehendak-kehendaknya, lalu menghadirkan kehendak kekasih sebagai ganti dan acuan geraknya. Dan itulah level hamba. Yaitu dia yang tak memiliki kehendak kecuali kehendak Maulanya, dia yang tak bergerak kecuali sesuai dengan kehendak Maulanya.

Ismail adalah simbol diri Ibrahim. Menyembelih Ismail adalah menyembelih Ibrahim. Menyembelih Ismail adalah menyembelih ego dan keakuan diri. Dalam pandangan kekasih, penyembelihan ego bukan tentang terjadi atau tidak terjadi, tapi tentang ingin atau tidak ingin, tentang bersedia atau tidak.

Hakikatnya, Kekasih ingin melihat, apakah pecinta-Nya bersedia mengatakan 'iya' atas setiap kehendak-Nya. Apakah pecinta-Nya melaksanakan perintah-Nya tanpa tanya, mengapa dan mengapa. Maka, berupayalah menyembelih ego diri, selebihnya serahkan pada Dia, seperti apa hasilnya.

Kisah Ibrahim dan Ismail adalah simbol perjalanan menuju Tuhan, Kesempurnaan nirbatas. Perjalanan menuju-Nya adalah perjalanan yang penuh dengan derita. Derita-derita tersebut, seperti kata Rumi, adalah pelembut dan penyuci jiwa. Dan derita yang teragung dalam perjalanan menuju-Nya adalah mengorbankan hal yang paling dicintai, yaitu ego diri. Bagaimana bisa engkau bisa sampai kepada-Nya, bila engkau takut kehilangan selain-Nya.

Ibrahim adalah bapak agama tauhid. Dengan kapaknya, ia hancurkan berhala-berhala yang berjejer mengelilingi ka'bah. Tapi tampaknya, Ibrahim tak bisa lepas dari anaknya, Ismail. Sebab Ismail, adalah cerminan dirinya. Ia masukkan Ismail ke dalam hatinya, begitu dalam. Hingga, kepada Ibrahim, Tuhan hendak mengingatkan, kami keluarkan berhala-berhala dari hatimu, lalu kau masukkan Ismail sebagai berhala baru ke dalamnya? Hancurkan juga berhala itu, sembelih Ismail.

Attar mengatakan, perintah tersebut merupakan akibat dari tidur kelalaian. Sekiranya Ibrahim tak tertidur, sekiranya Ibrahim tidak menyibukkan hatinya pada selain-Nya, maka tak akan ada perintah untuk menyembelih Ismail. Kelalaian, mengisi hati dengan selain Kekasih, adalah hijab yang menghalangi pecinta dari Kekasih.

Pada akhirnya, Ibrahim tersadar, terbangun dari tidur kelalaian. Sebagai bukti cinta kepada-Nya, dan sebagai bapak tauhid, ia membawa Ismail ke tempat penyembelihan. Karena ketulusan, kepasrahan dan kesetiaan mereka berdua, Tuhan pun menurunkan rahmat-Nya kepada mereka berdua, berupa keselamatan, kebahagiaan dan kesempurnaan.

Ibrahim dan Ismail mencintai Tuhan, maka mereka terima ujian terberat dari-Nya. Tuhan pun mencintai mereka berdua, maka Tuhan berikan keselamatan, kebahagiaan dan kesempurnaan pada keduanya. Inilah perwujudan dari ayat, yuhibbunahum wa yuhibbuunahu, Tuhan mencintai mereka dan mereka pun mencintai Tuhan (Al-maidah, 54).

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Rabu, 14 Agustus 2019

NERAKA ADALAH PENYUCIAN JIWA

Telah maklum bahwa tindak eksploitasi yang dilakukan di dunia ini, akan memberikan efek buruk bagi jiwa. Sebaliknya, tindakan harmonisasi akan memberikan efek baik bagi jiwa. Dalam filsafat Sadra, efek baik-buruk tindakan disebut dengan fisik mitsali di alam mitsal (barzakh), dan fisik aqli di alam akal (akhirat).

Dengan kata lain, di dunia ini, manusia sedang membentuk fisik mitsali dan fisik aqli, yang kelak menyertai jiwanya ke alam barzakh dan alam akhirat. Karena itu, Mulla Sadra meyakini adanya kebangkitan jasmani. Yakni, akan ada fisik yang senantiasa menyertai jiwa di setiap level eksistensi, baik di level barzakh, maupun di level akhirat.

Menariknya, fisik yang menyertai jiwa di alam mitsal dan alam akal adalah hasil bentukan manusia di alam dunia. Sekali lagi, perbuatan buruk akan membentuk fisik mitsali dan fisik aqli yang menakutkan, sedang perbuatan baik akan mebentuk fisik mitsali dan fisik aqli yang menentramkan. Kedua fisik tersebut, niscaya akan disadari setiap manusia pasca kematian. Itulah mengapa Rumi memahami kematian sebagai cermin penampil hakikat diri.

Pada hakikatnya, surga adalah disadarinya aktualitas bentuk-bentuk indah fisik di alam akhirat, yang dengannya jiwa beroleh kebahagiaan. Kebahagiaan itu akan semakin bertambah, lantaran ia semakin dekat dengan jamaliah Tuhan. Adapun neraka adalah disadarinya bentuk-bentuk menakutkan fisik di alam akhirat, yang dengannya jiwa beroleh derita. Derita tersebut semakin bertambah, lantaran ia berada dalam naungan jalaliah Tuhan.

Fisik yang menakutkan di neraka adalah jelmaan perbuatan buruk semasa di dunia. Perbuatan buruk yang paling dominan di dunia ini, akan menjelma paling awal di akhirat kelak. Kemudian disusul oleh jelmaan perbuatan buruk yang paling dominan selanjutnya. Hal ini terus berlanjut, hingga seluruh perbuatan buruk menjelma.

Inilah yang dimaksud dengan ayat 'Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain' (An-nisa, 56) . Yakni, jelmaan perbuatan buruk yang pertama akan digantikan dengan jelmaan perbuatan buruk yang kedua, ketiga dan...  hingga tak ada lagi jelmaan perbuatan buruk yang tersisa.

Ini juga makna 'neraka adalah penyucian jiwa dari kekotoran'. Yakni, neraka adalah proses penyucian jiwa dari fisik-fisik yang menakutkan hasil jelmaan perbuatan² buruk. Proses penyucian (yang dalam bahasa agama disebut siksaan) tersebut terus berlanjut, hingga tak ada lagi jelmaan perbuatan buruk yang tersisa.

Saat itu, fisik jiwa yang menakutkan akan habis, dan hadirlah fisik-fisik indah jiwa. Jiwa kembali suci, kembali pada fitrah, kembali pada surga-Nya. Wahai jiwa-jiwa yang tenang, masuklah dalam surga-Ku.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

MENJADI BERILMU ATAU MENJADI MANUSIA?

"Semua hal telah dipecahkan manusia, kecuali bagaimana caranya hidup {sebagai manusia}"

*@Jean Paul Sartre*

Ya, benar kata Sartre di atas, berbekal pengetahuan yang terlahir dari fitrah rasa ingin tahu yang meledak-ledak, manusia berhasil menyibak berbagai macam rahasia realitas.

Manusia berhasil menggenggam dunia, mengontrol dan menguasai spesies-spesies lain. Bahkan, manusia pun mulai saling menguasai dan memberikan pengaruh pada sesama spesies manusia.

Mirisnya, ditengah semua keberhasilan spektakuler itu, manusia gagal menyibak model hidup insani, terlebih lagi menerapkannya. Perkembangan pengetahuan yang tak diimbangi dengan peningkatan kemanusiaan.

Dari sisi peradaban, manusia telah bergerak jauh melampaui para hewan, manusia mampu menuliskan sejarah masa lalu, lalu merumuskan sejarah masa depan, sebuah hal yang mustahil dilakukan para hewan. Akan tetapi, dari sisi pola laku dan pola pikir, manusia belum beranjak kemana-mana, masih setara dengan singa atau domba. Sungguh memilukan.

Akibatnya, relasi yang terjalin antara manusia dengan manusia, pun manusia dengan alam adalah relasi eksploitatif. Manusia memandang manusia lain, terlebih lagi alam, sebagai objek mati, tanpa rasa, bisu dan tuli. Manusia lain dan alam tercipta tuk memenuhi kebutuhan (material) "ku". Semua mesti berkhidmat "padaku".

Akibat pengetahuan manusia, alam menjerit, para hewan, bebatuan, pepohonan dan juga manusia lain kehilangan kenyamanan dari hilangnya kedamaian. Tak jarang, alam memuntahkan "protes" dalam bentuk bencana-bencana. Mirisnya, kita tak mendengar jeritan dan protes alam. Sedikitpun. hati-hati kita tidak merasakan derita alam. Telinga dan hati kita disumbat oleh bising deru teknologi.

Harapan dan cita ideal manusia juga belum berbeda dengan harapan dan cita ideal para hewan, masih berputar-putar pada kenikmatan materi. Seolah-olah, tidak ada lagi kenikmatan diluar kenikmatan makan, minum, tidur, kawin dan popularitas.

Lihatlah konsepsi mereka perihal Tuhan dan syurga. Tuhan tak lebih dari sekedar "penyedia jasa" makanan yang lezat dan bidadari-bidadari yang selalu perawan. Kenikmatan syurgawi adalah kenikmatan duniawi dengan kuantitas dan kualitas yang jauh lebih besar. Mereka melakukan apa yang kita sebut dengan "duniaisasi ukhrawi", sebuah kesesatan nalar.

Walhasil, seperti yang dikatakan Muthahhari, manusia-manusia berilmu tersebut seperti para pemabuk yang kejam dengan sebilah pedang tajam di genggaman. Tentu, pedang tersebut tidak hanya melukai orang lain, tetapi juga melukai diri sendiri. Atau, seperti para pencuri di gelap malam dengan obor di tangan. Berbekal cahaya obor, pencuri akan mencuri segalanya.

Senada dengan ungkapan Sartre di atas, Imam Khumaini mengatakan dalam salah satu ceramahnya "olem syudan ce oson ast, inson syudan ce sakht ast (betapa mudah menjadi berilmu, betapa sulit menjadi manusia).

Yah, yang urgen bukan seberapa banyak yang kita ketahui dan miliki, tapi seberapa dalam kita menjadi manusia dan mencipta kehidupan insani. Kehidupan bukan tentang apakah kau telah terbang tinggi ke langit melampaui seeokor burung, bukan pula tentang apakah kau telah berenang dalam ke dasar laut melebihi seekor ikan. Kehidupan adalah tentang apakah kau telah berjalan di bumi sebagai manusia.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

JODOH, PERNIKAHAN & CINTA

Jodoh itu di tangan manusia atau di tangan Tuhan? Bagi kami, ini bukan dua hal yang bertentangan. Mengafirmasi jodoh di tangan manusia, bukan berarti menegaskan liburnya Tuhan dari perbuatan jodoh menjodohkan. Sebaliknya, meyakini bahwa jodoh di tangan Tuhan, bukan bermakna passifnya manusia.

Jodoh, atau pasangan hidup, tak ubahnya dengan rezeki dan kebutuhan² manusia yang lain. Dibutuhkan ikhtiar untuk menemukannya. Tuhan menciptakan alam ini dengan sistem kausalitas. Manusia tinggal memenuhi sebab², maka niscaya akibat² akan terwujud. Ketahuilah sebab² perjodohan, lalu penuhi itu, maka engkau akan menemukan jodohmu.

Apa saja sebab² perjodohan? Setidaknya dapat diringkas dalam dua sebab; sebab materi semisal interaksi sosial, menjalin interaksi dengan orang lain; dan sebab non materi seperti doa, mohonlah jodoh kepada Tuhan.

Jika sebab² perjodohan terpenuhi, maka terjadilah pernikahan. Pernikahan adalah akibat dari terpenuhinya sebab² perjodohan, bukan akibat dari cinta. Yakni, menikah bukan bukti cinta. Sebab boleh jadi, seseorang menikah tanpa landasan cinta, dan biasa disebut dengan pernikahan politis.
Bukti cinta adalah pengorbanan. Demi cinta, pecinta rela melepas dan tidak menikahi kekasihnya, jika itu yang terbaik bagi kekasih. Sebagai bukti cinta, pecinta rela menepis cintanya, bila itu yang diinginkan kekasih. Ekstrimnya, sekiranya Tuhan 'bahagia' bila aku tak mencintai dan tidak menyembah-Nya, niscaya tak akan kusembah dan tak akan kucinta Dia.

Menjadikan pernikahan sebagai bukti cinta, hanya akan mereduksi nilai cinta, dan membatasi keluasan cinta. Betapa tidak, pernikahan adalah relasi antar gender manusia. Tidak mungkin anda menikah dengan sesama jenis, tidak pula dengan bebatuan. Sedang cinta adalah relasi metagender, seseorang bisa mencintai segala yang ada, baik yang berfisik maupun yang tak berfisik, baik sesama jenis maupun yang berbeda jenis, tanpa ada tendensi untuk menikah.

Walhasil, tujuan hidup adalah menyempurnakan diri, bukan jodoh berjodoh, bukan pula nikah menikah. Jodoh dan nikah bukan hal yang mesti digalaukan hingga mati. Betapa banyak yang tak menikah, namun mereka mencapai maqom kedekatan pada Tuhan.

Segala hal mesti dijadikan sebagai sarana menyempurnakan diri (jiwa). Jabatan, lahan, kekayaan, bahkan raga, mesti melayani jiwa. Dengan begitu, diri akan menyempurna. Pun dengan pernikahan. Tak usah pikirkan lawan jenis, bila itu tak memberi kesempurnaan. Tak usah menikah, jika pernikahan justru semakin menjauhkan diri dari Tuhan.

Dari sini, terpahami falsafah dibolehkannya melepas jodoh (bercerai). Seperti kata Syariati, betapa banyak pasangan yang takut bercerai, karena alasan teologis (perceraian dibenci Tuhan). Akhirnya, fisik mereka tidur berdampingan, namun jiwa keduanya terpisah jauh.

Apalah artinya hidup bersama, jika jiwa saling terpisah, apalah artinya jalan berduaan, bila jiwa menempuh jalan yang saling berbeda. Benar, Tuhan membenci perceraian. Tapi Tuhan lebih benci lagi jika engkau mempertahankan sesuatu yang tak layak dipertahankan, Tuhan benci bila engkau menjadikan yang tak abadi sebagai harga mati.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

SURGA-NERAKA DALAM FILSAFAT HARMONISASI

Realitas memiliki dua level: level non materi dan level materi. Realitas non materi, hanya mungkin dipahami dengan ketajaman akal dan kejernihan jiwa. Mereka yang berparadigma materi, akan sulit memahami apatah lagi mengafirmasi realitas non materi. Terkecuali, jika realitas non materi tersebut dijelaskan dengan wasilah perkara-perkara materi.

Tuhan, jiwa insani, malaikat (yang dalam filsafat disebut akal satu, dua dst), pun juga dengan surga dan neraka adalah realitas² non materi. Maka segala teks yang seolah-olah menerangkan semua itu secara materi inderawi, mesti dimaknai secara metaforis, mesti ditakwil hingga tersucikan dari unsur² materi. Memaknai perkara non materi secara materi, adalah kesesatan nalar yang nyata adalah duniaisasi ukhrawi.

Surga-neraka misalnya, benar dideskripsikan secara materi. Surga dilukiskan sebagai kenikmatan materi, sebagai taman-taman hiburan, berisi sungai-sungai susu, madu dan pepohonan yang rindang. Di dalamnya, juga terdapat kamar-kamar yang dilengkapi dengan makanan-minuman dan para bidadari-bidadari perawan. Sebaliknya, neraka digambarkan sebagai tempat yang penuh derita,api yang menyala-nyala, rantai, belenggu dan palu yang lebih keras dari palu Thor. Namun, semua itu mesti dimaknai secara non materi, bahwa semua itu hanya perumpamaan.

Firman-Nya

مَثَلُ الْجَـنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ ۗ  فِيْهَاۤ اَنْهٰرٌ مِّنْ مَّآءٍ غَيْرِ اٰسِنٍ  ۚ  وَاَنْهٰرٌ مِّنْ لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهٗ  ۚ  وَاَنْهٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَ  ۚ  وَاَنْهٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى  ۗ  وَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ ۗ  كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِى النَّارِ وَسُقُوْا مَآءً حَمِيْمًا فَقَطَّعَ اَمْعَآءَهُمْ

"Perumpamaan [ingat, hanya perumpamaan] taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, sungai-sungai susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai anggur yang lezat rasanya bagi para peminumnya, dan ada jugasungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan, dan ampunan dari Tuhan mereka. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih, sehingga ususnya terpotong-potong?" (QS. Muhammad 47: Ayat 15).

Dalam filsafat, ada yang disebut _taudhihul ma'qul bilmahsus_, yakni menjelaskan realitas non materi dengan perantaraan realitas materi. Ini perlu, sebab tidak semua manusia mampu memahami apatahlagi menerima realitas non materi yang teramat jauh dari pengindraan. Bukan berarti, realitas non materi tak bisa dijelaskan secara logis, tapi kapasitas pendengar lah yang sulit memahami realitas non materi. Materi dan indera begitu kuat membelenggu mereka, sehingga setiap realitas mesti bisa terbayangkan secara materi.

Bukankah sulit menjelaskan, bila sang anak yang masih kecil bertanya kepada orang tuanya, "mah bagaimana saya bisa lahir, bagaimana cara buat anak, atau darimana saya lahir"?. Jawabannya mungkin sederhana dan mudah, tapi kita mencari jawaban yang sesuai kapasitas anak. Dan itu yang rumit.

Pun juga ketika kita ingin menjelaskan nikmatnya ilmu pada anak². Kita menjelaskannya dengan perantaraan kenikmatan hal² materi, semisal nikmatnya menenggak air segar di kala dahaga mencekik. Yakni, kepada anak kecil dan mereka yang tuna akal, hal² tersebut mesti dijelaskan secara analogis, bukan secara logis.

Para sufi juga sering melukiskan realitas non materi yang mereka saksikan, dengan analogi² yang bersifat materi. Semisal, keindahan Tuhan dilukiskan dengan putih rambut Laila, sedang hitam rambutnya adalah simbol keagungan-Nya. Hitam rambut Laila menutupi putih wajahnya, yakni dibalik keagungan murka Tuhan terdapat keindahan kasih-Nya. Laila adalah Tuhan, kekasih yang digilai. Sedang Majnun adalah hamba yang menggila.

Belum lagi, umat yang dihadapi Rasul Saw pada kala itu adalah Arab jahiliah, dengan kondisi geografis yang semua kita tahu betapa tak seindah nusantara. Sungai, air, taman dam pepohonan adalah kenikmatan tersendiri bagi umat yang hidup pada kondisi geografis yang panas dan gersang. Pun juga, senggama adalah kenikmatan tersendiri bagi kepala yang memandang perempuan sebagai pemuas nafsu lelaki belaka.

Rasul Saw menghadapi umat, yang bukan hanya bermental anak kecil, tapi juga tuna akal. Dengan ini, kenikmatan² surga, derita² neraka, yang sejatinya non materi, digambarkan dengan kenikmatan dan derita² materi. Sebab begitulah, anak kecil tak ingin melakukan sesuatu, bila tak ada imbalannya. Dan imbalannya, mestilah hal² yang bisa disentuh, diraba dan diterawang.

Anehnya, kita hidup di nusantara, negeri yang hijau dengan hutan [walau sudah banyak yang digunduli seperti gundulnya mahasiswa baru], dan sungai yang jernih lagi menyejukkan [walau sudah tercemari dengan sampah dan limbah, hingga menyebabkan banjir]. Tapi mengapa kita masih berpandangan ala arab jahiliah. Mengapa kita masih berburu surga yang dipenuhi pepohonan, sungai dan bidadari² perawan. Sudahlah, itu buruan arab jahiliah.

Mungkin, bila Rasul hadir di era milenial seperti saat ini, maka surga dan neraka akan dilukiskan secara berbeda. Surga adalah warkop yang menyajikan kopi dan wifi gratis. Sedang neraka adalah pondok tanpa listrik, tanpa quota dan tanpa powerbank.

Para filosof yang akrab dengan akal dan tak asing dari perkara non materi, tentu tak menginginkan surga yang dipenuhi kenikmatan materi. Sebab, semua kenikmatan materi, apapun bentuk dan jenismya, berada pada level yang sama, level materi. Bagi para filosof, tidaklah berbeda nikmatnya antara menikah dengan gadis perawan atau dengan janda beruban. Semuanya sama, berada dalam level kenikmatan materi.

Oleh karena itu, teks² yang melukiskan surga dengan kenikmatan materi, atau neraka dengan siksa materi, mesti ditakwil hingga sesuai dengan realitas non materi. Surga adalah kebahagiaan jiwa yang dirasakan oleh jiwa-jiwa yang menyempurna lantaran dekat dengan Wujud Sempurna, Tuhan yang Agung. Sedang neraka adalah derita jiwa: derita yang dirasakan oleh jiwa-jiwa yang tidak sempurna lantaran jauh dari-Nya.

Surga [kebahagiaan jiwa] bukan tujuan para filosof. Tujuan para filosof adalah Wujud Sempurna. Mereka menyembah-Nya, agar mereka dekat dan semakin dekat kepada-Nya. Adapun surga berupa kebahagiaan jiwa, adalah konsekuensi logis dari penghambasn yang tulus. Karena itu, surga tidak perlu dijadikan tujuan.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

MANUSIA, BUDAYA DAN PERADABAN

Manusia adalah hewan, hal ini tak dapat disangkal. Ayam, kucing dll, adalah saudara sehewan manusia. Walau demikian, capaian-capaian manusia jauh meninggalkan capaian saudara-saudaranya yang tergabung dalam genus hewan.
Rahasia apa yang tak dibongkar manusia? Apa yang tak dicapai manusia? Manusia mampu membedah bumi, mengeluarkan ragam isi perut bumi berupa emas, minyak bumi dll, lalu digunakan tuk memenuhi kebutuhan yang mereka ciptakan sendiri. Manusia benar-benar menjadi penguasa dan pengontrol bumi. Rahasianya dimana? Pengetahuan.
Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya, yang dengan itu, manusia mencipta budaya dan peradaban, mengontrol dan menguasai dunia, menulis sejarah masa lalu dan merumuskan sejarah masa depan. Suatu hal yang tak mampu dilakukan saudara-saudara sehewan manusia.
Apa yang belum dilakukan manusia? Cuman satu, MENJADI MANUSIA. Kata Sartre, semua hal telah dipecahkan manusia, kecuali satu hal; bagaimana cara hidup [sebagai manusia]. Manusia berhasil terbang tinggi melampau burung, berhasil pula menyelam dalam ke dasar laut mengalahkan ikan. Tapi sayang, manusia gagal berjalan di bumi SEBAGAI MANUSIA. Manusia berhasil mencipta peradaban gedung-gedung, tapi gagal mencipta peradaban insani.
Lihatlah, budaya manusia semakin memoderen. Budaya baca tulis, makan, minum dan gaya berpakaian manusia semakin menggila. Tapi sayang, pola pikir dan pola laku manusia masih kuno, belum beranjak kemana-mana, masih setara dengan singa dan para domba.
Akibatnya, relasi yang terjalin antara manusia dengan manusia, pun manusia dengan alam adalah relasi eksploitatif. Manusia memandang manusia lain, terlebih lagi alam, sebagai objek mati, tanpa rasa, bisu dan tuli. Manusia lain dan alam tercipta tuk memenuhi kebutuhan (material) "ku". Semua mesti berkhidmat "padaku".
Akibat pengetahuan manusia dan atas nama pengembangan budaya dan peradaban, alam menjerit, para hewan, bebatuan, pepohonan dan juga manusia lain kehilangan kenyamanan dari hilangnya kedamaian. Tak jarang, alam memuntahkan "protes" dalam bentuk bencana-bencana. Mirisnya, kita tak mendengar jeritan dan protes alam, barang sedikitpun. Hati-hati kita tidak merasakan derita alam. Telinga-telinga kita disumbat oleh bising deru teknologi.
Harapan dan cita ideal manusia juga belum berbeda dengan harapan dan cita ideal para hewan, masih berputar-putar pada kenikmatan materi. Seolah-olah, tidak ada lagi kenikmatan di luar kenikmatan makan, minum, tidur, kawin dan popularitas.
Lihatlah konsepsi mereka perihal Tuhan dan syurga. Tuhan tak lebih dari sekedar "penyedia jasa" makanan yang lezat dan bidadari-bidadari yang selalu perawan. Kenikmatan syurgawi adalah kenikmatan duniawi dengan kuantitas dan kualitas yang jauh lebih besar. Mereka melakukan apa yang kita sebut dengan "duniaisasi ukhrawi", sebuah kesesatan nalar.
Seperti yang dikatakan Muthahhari, manusia-manusia berilmu tersebut seperti para pemabuk yang kejam dengan sebilah pedang tajam di genggaman. Tentu, pedang tersebut tidak hanya melukai orang lain, tetapi juga melukai diri sendiri. Atau, seperti para pencuri di gelap malam dengan obor di tangan. Berbekal cahaya obor, pencuri akan mencuri segalanya.
Senada dengan ungkapan Sartre di atas, seorang bijakawan berkata, betapa mudah menjadi berilmu, betapa sulit menjadi manusia. Yah, berilmu, mencipta budaya dan peradaban itu mudah. Yang sulit tapi urgen adalah menjadi manusia dan mewujudkan kehidupan manusiawi di bumi. Sebuah kehidupan yang setiap entitas di dalamnya beroleh kedamaian. Saat itu, manusia berhasil menjalankan perannya sebagai penjaga bumi (khalifah fil ardhi), bukan penguasa bumi.
Walhasil, budaya dan peradaban merupakan produk pengetahuan manusia. Olehnya itu, corak pengetahuan manusia akan menentukan arah budaya dan peradaban manusia. Pengetahuan yang bercorak materi, akan melahirkan budaya dan peradaban materi, budaya dan peradaban eksploitatif. Sebaliknya, corak pengetahuan Ilahi akan mewujudkan budaya dan peradaban insani. Budaya dan peradaban yang sejalan dengan jalan penghambaan, jalan harmonisasi.
*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi