Sabtu, 23 Januari 2021

NILAI TINDAKAN

 

"...Perbuatan yang bernilai adalah perbuatan yang memiliki dua unsur kebaikan; husnul fa'il dan husnul fi'il.

Para filosof muslim menyebut husnul fa'il sebagai tendensi (niat, iman) baik pelaku dalam melakukan perbuatan baik. Dan sebaik-baik tendensi adalah tendensi ketuhanan, qurb ilallah. 


Adapun husnul fa'il adalah perbuatan baik pada umumnya, semisal bangun jembatan, jalan tol,  RS dst. 


Tanpa dua unsur tersebut, perbuatan tidak akan bernilai, tidak akan meyempurnakan jiwa pelakunya. Menipu rakyat dengan tendensi qurb ilallah, dan juga menolong rakyat dengan tendensi qurb ilannas, adalah perbuatan yang nirnilai. Sebab, yang pertama adalah su'ul fi'il + husnul fa'il. Sedang yang kedua adalah husnul fi'il + su' ul fa'il. Hasil keduanya adalah NOL. 


Boleh jadi, perbuatan yang baik (husnul fi'il)  memberikan manfaat bagi orang lain, namun belum tentu memberikan manfaat bagi perfeksi jiwa pelakunya. Membangun jalan tol tentu bermanfaat bagi orang lain, tapi jika dilakukan dengan tendensi pencitraan, maka jiwa pelakunya akan kehilangan jalan tol menuju langit. Jiwanya akan terjebak macet di dunia.


Begitu juga dengan seabrek pelayanan pada masyarakat, akan kehilangan nilai bila dilandasi kepongahan dengan mengingkari hal-hal transenden, utamanya eksistensi Tuhan.


Unsur 'husnul fa'il' inilah yang membedakan humanitas transenden dengan humanitas imanen, humanitas Syariatian dengan humanitas Marxian. Tentu berbeda nilainya, mereka yang melayani kemanusiaan dengan tendensi ketuhanan, dan mereka yang melayani kemanusiaan dengan tendesi kemanusiaan. Yang satu meyakini kemendasaran Tuhan (asholatul haq). Yang lainnya meyakini kemendasaran manusia (asholatunnas).Nilainya tak akan sama.


Husnul fa'il hanya mungkin dimiliki oleh mereka yang memiliki pandangan dunia Ilahi. Kualitas husnul fa'il ditentukan oleh kedalaman makrifatullah. Semakin dalam anda mengenal Tuhan, maka iman, niat dan keikhlasan anda pun akan semakin mendalam.


Husnul fi'il (perbuatan baik) tanpa husnul fa'il (tendensi yang baik) itu adalah mereka yang memberi materi pada orang lain, namun tidak mengambil non materi darinya. Juga, mereka yang berbuat baik pada orang lain, namun tidak berbuat baik pada diri mereka sendiri; kebaikan yang mereka lakukan tidak menyempurnakan diri mereka sendiri, tidak menerbangkan jiwanya menuju kedekatan Ilahi. Sungguh rugi.  Ata'murunanannasa bil birri, wa tansauna anfusakum. Begitu firman-Nya (02;44).


Perbuatan baik tanpa tendensi yang baik, adalah perbuatan nir nilai yang dibalut dengan jubah yang indah. Zayyana lahum asy-syaitonu a'malahum (An-nahl 63, Al-an'am 43 dll). Mereka merasa cukup dengan sekedar melakukan perbuatan baik, dan mengabaikan urgensi iman..."


(Filsafat Harmonisasi, hal 93-99)

~Alfit Lyceum

#salamharmonisasi

#filsafatharmonisasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar