Sabtu, 17 Agustus 2019

BEBAS ATAU TERTAWAN

Terkadang kita melihat ada orang yang ditahan, namun sesungguhnya ia bebas dan merdeka. Ada pula orang yang bebas, namun sesungguhnya ia tertahan. Oleh karena itu, kita harus memaknai arti ‘bebas dan merdeka’ sebelum mengevaluasi diri; bebas atau tertawan kah kita.

Pada dasarnya ‘bebas’ memiliki arti ‘ketidakbutuhan’ pada segala sesuatu. Karena itu, bebas juga bermakna kekayaan. Kekayaan bukan bermakna memiliki segalanya, tetapi bermakna tidak butuh pada segalanya. Semakin tidak butuh manusia, semakin kaya dan bebas dirinya.Sebaliknya, semakin butuh manusia, semakin miskin dan terpenjara dirinya.

Dengan ini, kebebasan mutlak hanya milik Tuhan semata. Kebebasan yang dimiliki manusia adalah kebebasan semu, kebebasan dalam ketertawanan. Ia bebas dari satu hal, dan tertawan pada hal lainnya.

Hal ini yang mendorong Psikolog eropa Erick From untuk menulis buku “fear of freedom” yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “lari dari kebebasan”. Erick From meyakini, kebebasan adalah kemustahilan bagi manusia. Karena itu, kita harus lari dari kebebasan menuju ketertawanan. Tapi, ketertawanan yang mulia, yaitu ketertawanan pada kesempurnaan.

Mufassir dan filsuf besar Muslim Allamah Thobathobai mengatakan, manusia itu bebas,, namun tidak mandiri. Hal ini juga menyiratkan kebebasan semu manusia, kebebasan dalam ketertawanan. Yakni, manusia tidak mampu mengelola kebebasannya. Olehnya itu, ia harus menawankan dirinya pada wujud lain di luar dirinya, yang bisa mengarahkan gerak kebebasannya dengan benar.

Manusia-manusia yang bebas adalah mereka yang mengetahui kepada siapa dirinya harus tertawan dan menyerahkan gerak kebebasan semunya. Setelah mereka menemukan tempat bersandar itu, maka pada hakikatnya, mereka adalah orang-orang yang bebas, meskipun dirinya berada dalam kerangkeng penjara.

Namun sebaliknya, ketika mereka tidak menemukan sandaran hakiki itu, dan justru menjadikan hal-hal yang tidak hakiki sebagai sandaran, niscaya mereka adalah orang-orang yang terpenjara, kendatipun dirinya berkeliaran di alam bebas.

Inilah hakikat yang diisyaratkan Tuhan dalam kitabNya, "Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan/iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in".

Manusia merdeka adalah mereka yang mampu merealisasikan ayat di atas. Yakni, mereka yang menawankan dirinya pada Pemiliknya dan menjadi hamba-Nya. Mereka yang tidak menghamba pada sesama hamba.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Buku bagaikan minuman bagi jiwa, tapi sebagian minuman berbahaya. (Sayyid ali khamenei).



Buku adalah jelmaan penulis dan penulis adalah manusia. Sebagian manusia itu berbahaya, mengajak pada degradasi jiwa, sebagian yang lain menentramkan dan menghantarkan jiwa pada kesempurnaan. Maka begitu pula dengan buku.

Rasul Saw adalah kitab pencerahan dan harmonisasi. Abu Lahab adalah kitab pembodohan dan eksploitasi. Perhatikan kitab diri, jangan sampai diri adalah kitab pembodohan yang terus-menerus mempertontonkan kebodohan pada orang².

Membaca bukan tentang seberapa banyak buku yang dibaca, tapi tentang buku apa yang dibaca. Apakah buku yang memanjakan perasaan, mematikan nalar kritis, atau buku yang mengembangkan akal.
*Alfit Lyceum

FILSAFAT, LOGIKA & EPISTEMOLOGI

 Selain memiliki tujuan, setiap disiplin ilmu juga memiliki objek kajian dan instrumen atau metode kajian. Diantara 8 pilar disiplin ilmu, para cendekia klasik menyebut ketiga hal ini (objek, instrumen dan tujuan) sebagai pilar esensial sebuah disiplin ilmu. Betapa tidak, disiplin ilmu terbedakan secara esensial dengan yang lainnya, berkat ketiga atau salah satu dari ketiga pilar tersebut.

Sosiologi, Antropologi dan Psikologi misalnya, kendatipun seobjek (sama² mengkaji manusia) & semetode (empirik), namun berbeda dari sisi tujuan dan tinjauan terhadap objek kajian. Sosiologi mengkaji manusia dari sisi relasi sosial, Antroplogi dari ranah budaya, dan Psikologi dari sisi fsikis manusia. Maka, berbeda pula tujuan yang ingin dicapai ketiganya.

Filsafat, Logika dan Epistemologi pun demikian. Sebagai disiplin ilmu, ketiganya memiliki objek, tujuan, dan instrumen/metode kajian. Telah maklum, akal dengan metode rasional adalah instrumen Filsafat, Logika dan Epistemologi. Kemudian, Logika dan Epistemologi mengkaji objek yang sama, yaitu pengetahuan, namun dari tinjauan yang berbeda. Dan pada akhirnya, meniscayakan tujuan yang juga berbeda.

Adapun filsafat, sebagai disiplin ilmu, juga tak kosong dari tiga esensi disiplin ilmu. Seperti disebutkan, akal dengan metode rasional adalah instrumen filsafat. Sedang realitas secara mutlak adalah objek kajian filsafat. Filsafat bertujuan menyingkap hakikat realitas sebagaimana realitas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Dengan kata lain, seperti kata Ibn Sina, filsafat berupaya membentuk manusia menjadi _alamun aqliun mudhohiyun lil alam al-aini_ ; yakni alam akal yang serupa dengan alam eksternal. Atau dalam bahasa filsafat kita, filsafat harmonisasi, filsafat akan membentuk diri menjadi "manusia semesta" atau "miniatur alam".

Walhasil, berfilsafat yakni berupaya menyingkap hakikat realitas sebagaimana realitas, dengan menggunakan akal. Dan itu, hanya mungkin jika;

1. Dalam proses berpikirnya, akal terhindar dari sesat-sesat nalar. Yah, hakikat realitas tak akan terpahami secara objektif, bila akal masih terjebak dalam sesat-sesat nalar. Karenanya, sebelum berfilsafat, sebelum berpikir tentang hakikat realitas, penting tuk mengkaji dan memahami logika dengan baik. Sebab logika, adalah sistem berpikir benar.

2. Neraca kebenaran dan nilai pengetahuan terpahami dengan baik. Tanpa mengetahui neraca kebenaran dengan benar, kita tak akan pernah tahu objektifitas pengetahuan yang kita miliki. Jadi, betapapun hakikat realitas telah kita singkap, tapi tak ada jaminan, apakah hasil singkapan kita objektif, atau tidak. Apalah artinya mengetahui hakikat realitas, bila ternyata pengetahuan tersebut non objektif.

Karena itu, sebelum berfilsafat, dibutuhkan sebuah ilmu yang menyajikan neraca kebenaran dan nilai pengetahuan dengan benar. Dan, ilmu tersebut adalah epistemologi.

Kesimpulannya, hakikat realitas akan terpahami dengan objektif bila kita berfilsafat dengan mengikuti sistem berpikir logis, dan dengan neraca epistemologis yang benar.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Politik Transenden; Sketsa Politik Pencerahan Khajah Thusi

Begitu buruknya citra perpolitikan dunia pada umumnya dan nusantara pada khususnya, hingga penyanyi Iwan Fals mendendangkan politik sebagai “dunia bintang, dunia hura-hura para binatang”. Deskripsi tersebut terlihat wajar mengingat logika politik yang dipertontonkan saat ini adalah logika persaingan, bukan logika pencerahan.

Dalam politik persaingan, terma kawan-lawan dan menang-kalah adalah hal yang lumrah. Hukum moral dan agama tak berkutik di bawah bayang-bayang ke-uang-an yang maha agung. Rakyat yang lugu cenderung diam, dibungkam sebungkus nasi tanpa tahu bahwa yang mereka jagokan akan mengambil seluruh lahan pertanian mereka kelak.

Tulisan sederhana ini, tidak akan mengulas kembali politik persaingan yang sudah begitu sejelas matahari. Kita semua sudah tahu, bahkan “mungkin” kita sudah merasa nyaman dengannya. Pada kesempatan ini, kita akan memperkenalkan sebuah teori politik dalam perspektif Khajah Nashiruddin Thusi.

Sedikit tentang Khajah Thusi, beliau adalah seorang teolog danfilsuf peripatetik. Menurut Henry Corbin, jika filsafat peripatetik di dunia barat telah mati, sedang di dunia timur terus berkembang, itu semua berkat jasa Khajah Thusi. Begitu juga, jika teologi Islam memiliki warna filsafat, itu semua berkat penjelasan yang diberikan beliau.

Politik dalam pandangan Khajah Thusi adalah sebuah seni dalam menyeimbangkan beragam watak dan keinginan masyarakat. Tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat, adalah kumpulan individu-individu yang memiliki watak dan keinginan yang saling berbeda. Dalam hemat Khajah, setidaknya terdapat lima watak manusia dalam masyarakat;

Pertama; watak kebaikan dan menyebarkan kebaikan. Watak ini dimiliki oleh mereka yang shaleh secara personal dan secara sosial; mereka adalah orang-orang yang baik dan kebaikannya sampai kepada orang lain.

Kedua: watak kebaikan tanpa menyebarkan kebaikan. Yaitu mereka yang menampilkan keshalehan personal tanpa keshalehan sosial. Kebaikan mereka tidak sampai pada orang lain.

Ketiga: watak yang bukan kebaikan bukan pula kejahatan. Yaitu mereka yang intensitas kebaikannya setara dengan intensitas kejahatannya.

Keempat: watak kejahatan dan menyebarkan kejahatan. Yaitu mereka yang memiliki dosa personal dan dosa sosial. Mereka adalah orang-orang jahat yang kejahatannya sampai pada orang lain.

Kelima: watak kejahatan tanpa menyebarkan kejahatan. Watak ini dimiliki oleh mereka yang gemar melakukan dosa personal namun bersih dari dosa sosial. Kejahatan mereka tidak sampai pada orang lain.

Seperti halnya dengan watak, keinginan-keinginan anggota masyarakat juga beragam. Perbedaan keinginan yang pada dasarnya merupakan cita ideal ini merupakan implikasi dari perbedaan pengetahuan. Pengetahuan yang benar akan mengantarkan manusia pada cita ideal yang hakiki. Sedang pengetahuan yang keliru akan menampilkan cita ideal ilutif pada pemiliknya.

Atas dasar ini, guna menghindari terjadinya patologi sosial yang bermuara pada punahnya spesies manusia, dibutuhkan sebuah lembaga penyeimbang ragam watak dan keinginan-keinginan masyarakat. Lembaga yang kita sebut sebagai politik ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang menguasai seni menyeimbangkan hal-hal yang tidak seimbang.

Harmonisasi berbagai watak dan cita ideal bukan berarti menyokong dan mengaktualkan beragam watak dan cita ideal yang ada. Menyeimbangkan atau harmonisasi yang dimaksud adalah mengantarkan masyarakat pada pengetahuan yang benar akan kesempurnaan sejati yang semestinya menjadi cita ideal setiap manusia. Disamping itu, masyarakat juga mendapat pengawalan agar tetap bergerak di atas jalur kesempurnaan sejati.

Sehingga, politik dalam perspektif khajah Thusi lebih bersifat sebagai lembaga pencerahan dan pendampingan masyarakat. Dengan kata lain, politik adalah lembaga pencerahan yang mengenalkan titik awal (mabda), titik akhir (ma’ad) serta posisi dan peran masyarakat di alam ini.

Politik juga menjadi lembaga pendamping dan penyedia sarana yang dibutuhkan masyarakat dalam menempuh sebaik-baik perjalanan menuju titik akhir. Semua ini dimaksudkan agar masyarakat politik beroleh kesempurnaan hakiki yang melazimkan kebahagiaan abadi.

Dari uraian di atas, dapat dipahami mengapa Khajah Thusi dalam buku akhloq-e nasheri menjadikan tema manusia sebagai tema pembuka dalam diskursus politiknya. Hal ini jelas, lantaran tujuan politik dalam hemat khajah adalah meraih kebahagiaan abadi yang terlahir dari kesempurnaan hakiki.

Oleh karena itu, kesempurnaan dan kebahagiaan manusia harus lebih dahulu jelas sebelum segala sesuatunya terjelaskan. Lantas, apa kebahagiaan dan kesempurnaan manusia menurut khajah Thusi? Bacalah buku Manajemen Politik, Perspektif Khajah Thusi.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

RASIONALITAS QURBAN

Dikisahkan, Ibrahim as diperintahkan Tuhan untuk menyembelih anaknya, Ismail as. Disampaikanlah titah itu pada si buah hati yang telah lama dinantikannya, "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”. Sang anak pun menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (As-shoffat,102).

Pada awalnya, perintah tersebut terkesan ilogis, bertentangan dengan akal dan nurani. Tuhan penyayang mana yang memerintahkan seorang ayah menyembelih anaknya. Akal dan nurani, menentang itu. Bisa dibayangkan, di usia senjanya, dikala Ibrahim begitu menantikan hadirnya si buah hati. Tapi, begitu si buah hati terlahir dan beranjak besar, tetiba ia diperintahkan untuk menyembelih si buah hati itu.

Bila ditelisik lebih dalam, tak ada yang ilogis dalam perintah Tuhan. Semua perintahnya adalah penyempurna hamba. Toh, apa yang kita miliki? Jangankan anak, wujud diri sendiri pun adalah milik dan pemberian-Nya. Adalah logis bila Sang Pemilik meminta kembali apa yang dimilikinya. Maka jangan enggan bila Dia memintamu terbunuh di medan laga. Jangan tolak bila Dia menginginkan kelestarian ajaran-Nya dengan siraman darahmu. Berikan jiwa dan ragamu sesuai ingin-Nya, itulah kesempurnaan.

Dalam perspektif sufistik, puncak cinta adalah matinya pecinta dan yang tersisa hanya kekasih semata. Tak ada aku dan Dia dalam kamus cinta. Yang ada hanya Dia. Dan itu, hanya mungkin jika pecinta menyembelih kehendak-kehendaknya, lalu menghadirkan kehendak kekasih sebagai ganti dan acuan geraknya. Dan itulah level hamba. Yaitu dia yang tak memiliki kehendak kecuali kehendak Maulanya, dia yang tak bergerak kecuali sesuai dengan kehendak Maulanya.

Ismail adalah simbol diri Ibrahim. Menyembelih Ismail adalah menyembelih Ibrahim. Menyembelih Ismail adalah menyembelih ego dan keakuan diri. Dalam pandangan kekasih, penyembelihan ego bukan tentang terjadi atau tidak terjadi, tapi tentang ingin atau tidak ingin, tentang bersedia atau tidak.

Hakikatnya, Kekasih ingin melihat, apakah pecinta-Nya bersedia mengatakan 'iya' atas setiap kehendak-Nya. Apakah pecinta-Nya melaksanakan perintah-Nya tanpa tanya, mengapa dan mengapa. Maka, berupayalah menyembelih ego diri, selebihnya serahkan pada Dia, seperti apa hasilnya.

Kisah Ibrahim dan Ismail adalah simbol perjalanan menuju Tuhan, Kesempurnaan nirbatas. Perjalanan menuju-Nya adalah perjalanan yang penuh dengan derita. Derita-derita tersebut, seperti kata Rumi, adalah pelembut dan penyuci jiwa. Dan derita yang teragung dalam perjalanan menuju-Nya adalah mengorbankan hal yang paling dicintai, yaitu ego diri. Bagaimana bisa engkau bisa sampai kepada-Nya, bila engkau takut kehilangan selain-Nya.

Ibrahim adalah bapak agama tauhid. Dengan kapaknya, ia hancurkan berhala-berhala yang berjejer mengelilingi ka'bah. Tapi tampaknya, Ibrahim tak bisa lepas dari anaknya, Ismail. Sebab Ismail, adalah cerminan dirinya. Ia masukkan Ismail ke dalam hatinya, begitu dalam. Hingga, kepada Ibrahim, Tuhan hendak mengingatkan, kami keluarkan berhala-berhala dari hatimu, lalu kau masukkan Ismail sebagai berhala baru ke dalamnya? Hancurkan juga berhala itu, sembelih Ismail.

Attar mengatakan, perintah tersebut merupakan akibat dari tidur kelalaian. Sekiranya Ibrahim tak tertidur, sekiranya Ibrahim tidak menyibukkan hatinya pada selain-Nya, maka tak akan ada perintah untuk menyembelih Ismail. Kelalaian, mengisi hati dengan selain Kekasih, adalah hijab yang menghalangi pecinta dari Kekasih.

Pada akhirnya, Ibrahim tersadar, terbangun dari tidur kelalaian. Sebagai bukti cinta kepada-Nya, dan sebagai bapak tauhid, ia membawa Ismail ke tempat penyembelihan. Karena ketulusan, kepasrahan dan kesetiaan mereka berdua, Tuhan pun menurunkan rahmat-Nya kepada mereka berdua, berupa keselamatan, kebahagiaan dan kesempurnaan.

Ibrahim dan Ismail mencintai Tuhan, maka mereka terima ujian terberat dari-Nya. Tuhan pun mencintai mereka berdua, maka Tuhan berikan keselamatan, kebahagiaan dan kesempurnaan pada keduanya. Inilah perwujudan dari ayat, yuhibbunahum wa yuhibbuunahu, Tuhan mencintai mereka dan mereka pun mencintai Tuhan (Al-maidah, 54).

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Rabu, 14 Agustus 2019

NERAKA ADALAH PENYUCIAN JIWA

Telah maklum bahwa tindak eksploitasi yang dilakukan di dunia ini, akan memberikan efek buruk bagi jiwa. Sebaliknya, tindakan harmonisasi akan memberikan efek baik bagi jiwa. Dalam filsafat Sadra, efek baik-buruk tindakan disebut dengan fisik mitsali di alam mitsal (barzakh), dan fisik aqli di alam akal (akhirat).

Dengan kata lain, di dunia ini, manusia sedang membentuk fisik mitsali dan fisik aqli, yang kelak menyertai jiwanya ke alam barzakh dan alam akhirat. Karena itu, Mulla Sadra meyakini adanya kebangkitan jasmani. Yakni, akan ada fisik yang senantiasa menyertai jiwa di setiap level eksistensi, baik di level barzakh, maupun di level akhirat.

Menariknya, fisik yang menyertai jiwa di alam mitsal dan alam akal adalah hasil bentukan manusia di alam dunia. Sekali lagi, perbuatan buruk akan membentuk fisik mitsali dan fisik aqli yang menakutkan, sedang perbuatan baik akan mebentuk fisik mitsali dan fisik aqli yang menentramkan. Kedua fisik tersebut, niscaya akan disadari setiap manusia pasca kematian. Itulah mengapa Rumi memahami kematian sebagai cermin penampil hakikat diri.

Pada hakikatnya, surga adalah disadarinya aktualitas bentuk-bentuk indah fisik di alam akhirat, yang dengannya jiwa beroleh kebahagiaan. Kebahagiaan itu akan semakin bertambah, lantaran ia semakin dekat dengan jamaliah Tuhan. Adapun neraka adalah disadarinya bentuk-bentuk menakutkan fisik di alam akhirat, yang dengannya jiwa beroleh derita. Derita tersebut semakin bertambah, lantaran ia berada dalam naungan jalaliah Tuhan.

Fisik yang menakutkan di neraka adalah jelmaan perbuatan buruk semasa di dunia. Perbuatan buruk yang paling dominan di dunia ini, akan menjelma paling awal di akhirat kelak. Kemudian disusul oleh jelmaan perbuatan buruk yang paling dominan selanjutnya. Hal ini terus berlanjut, hingga seluruh perbuatan buruk menjelma.

Inilah yang dimaksud dengan ayat 'Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain' (An-nisa, 56) . Yakni, jelmaan perbuatan buruk yang pertama akan digantikan dengan jelmaan perbuatan buruk yang kedua, ketiga dan...  hingga tak ada lagi jelmaan perbuatan buruk yang tersisa.

Ini juga makna 'neraka adalah penyucian jiwa dari kekotoran'. Yakni, neraka adalah proses penyucian jiwa dari fisik-fisik yang menakutkan hasil jelmaan perbuatan² buruk. Proses penyucian (yang dalam bahasa agama disebut siksaan) tersebut terus berlanjut, hingga tak ada lagi jelmaan perbuatan buruk yang tersisa.

Saat itu, fisik jiwa yang menakutkan akan habis, dan hadirlah fisik-fisik indah jiwa. Jiwa kembali suci, kembali pada fitrah, kembali pada surga-Nya. Wahai jiwa-jiwa yang tenang, masuklah dalam surga-Ku.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

MENJADI BERILMU ATAU MENJADI MANUSIA?

"Semua hal telah dipecahkan manusia, kecuali bagaimana caranya hidup {sebagai manusia}"

*@Jean Paul Sartre*

Ya, benar kata Sartre di atas, berbekal pengetahuan yang terlahir dari fitrah rasa ingin tahu yang meledak-ledak, manusia berhasil menyibak berbagai macam rahasia realitas.

Manusia berhasil menggenggam dunia, mengontrol dan menguasai spesies-spesies lain. Bahkan, manusia pun mulai saling menguasai dan memberikan pengaruh pada sesama spesies manusia.

Mirisnya, ditengah semua keberhasilan spektakuler itu, manusia gagal menyibak model hidup insani, terlebih lagi menerapkannya. Perkembangan pengetahuan yang tak diimbangi dengan peningkatan kemanusiaan.

Dari sisi peradaban, manusia telah bergerak jauh melampaui para hewan, manusia mampu menuliskan sejarah masa lalu, lalu merumuskan sejarah masa depan, sebuah hal yang mustahil dilakukan para hewan. Akan tetapi, dari sisi pola laku dan pola pikir, manusia belum beranjak kemana-mana, masih setara dengan singa atau domba. Sungguh memilukan.

Akibatnya, relasi yang terjalin antara manusia dengan manusia, pun manusia dengan alam adalah relasi eksploitatif. Manusia memandang manusia lain, terlebih lagi alam, sebagai objek mati, tanpa rasa, bisu dan tuli. Manusia lain dan alam tercipta tuk memenuhi kebutuhan (material) "ku". Semua mesti berkhidmat "padaku".

Akibat pengetahuan manusia, alam menjerit, para hewan, bebatuan, pepohonan dan juga manusia lain kehilangan kenyamanan dari hilangnya kedamaian. Tak jarang, alam memuntahkan "protes" dalam bentuk bencana-bencana. Mirisnya, kita tak mendengar jeritan dan protes alam. Sedikitpun. hati-hati kita tidak merasakan derita alam. Telinga dan hati kita disumbat oleh bising deru teknologi.

Harapan dan cita ideal manusia juga belum berbeda dengan harapan dan cita ideal para hewan, masih berputar-putar pada kenikmatan materi. Seolah-olah, tidak ada lagi kenikmatan diluar kenikmatan makan, minum, tidur, kawin dan popularitas.

Lihatlah konsepsi mereka perihal Tuhan dan syurga. Tuhan tak lebih dari sekedar "penyedia jasa" makanan yang lezat dan bidadari-bidadari yang selalu perawan. Kenikmatan syurgawi adalah kenikmatan duniawi dengan kuantitas dan kualitas yang jauh lebih besar. Mereka melakukan apa yang kita sebut dengan "duniaisasi ukhrawi", sebuah kesesatan nalar.

Walhasil, seperti yang dikatakan Muthahhari, manusia-manusia berilmu tersebut seperti para pemabuk yang kejam dengan sebilah pedang tajam di genggaman. Tentu, pedang tersebut tidak hanya melukai orang lain, tetapi juga melukai diri sendiri. Atau, seperti para pencuri di gelap malam dengan obor di tangan. Berbekal cahaya obor, pencuri akan mencuri segalanya.

Senada dengan ungkapan Sartre di atas, Imam Khumaini mengatakan dalam salah satu ceramahnya "olem syudan ce oson ast, inson syudan ce sakht ast (betapa mudah menjadi berilmu, betapa sulit menjadi manusia).

Yah, yang urgen bukan seberapa banyak yang kita ketahui dan miliki, tapi seberapa dalam kita menjadi manusia dan mencipta kehidupan insani. Kehidupan bukan tentang apakah kau telah terbang tinggi ke langit melampaui seeokor burung, bukan pula tentang apakah kau telah berenang dalam ke dasar laut melebihi seekor ikan. Kehidupan adalah tentang apakah kau telah berjalan di bumi sebagai manusia.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi