"Semua hal telah dipecahkan manusia, kecuali bagaimana caranya hidup {sebagai manusia}"
*@Jean Paul Sartre*
Ya, benar kata Sartre di atas, berbekal pengetahuan yang terlahir dari fitrah rasa ingin tahu yang meledak-ledak, manusia berhasil menyibak berbagai macam rahasia realitas.
Manusia berhasil menggenggam dunia, mengontrol dan menguasai spesies-spesies lain. Bahkan, manusia pun mulai saling menguasai dan memberikan pengaruh pada sesama spesies manusia.
Mirisnya, ditengah semua keberhasilan spektakuler itu, manusia gagal menyibak model hidup insani, terlebih lagi menerapkannya. Perkembangan pengetahuan yang tak diimbangi dengan peningkatan kemanusiaan.
Dari sisi peradaban, manusia telah bergerak jauh melampaui para hewan, manusia mampu menuliskan sejarah masa lalu, lalu merumuskan sejarah masa depan, sebuah hal yang mustahil dilakukan para hewan. Akan tetapi, dari sisi pola laku dan pola pikir, manusia belum beranjak kemana-mana, masih setara dengan singa atau domba. Sungguh memilukan.
Akibatnya, relasi yang terjalin antara manusia dengan manusia, pun manusia dengan alam adalah relasi eksploitatif. Manusia memandang manusia lain, terlebih lagi alam, sebagai objek mati, tanpa rasa, bisu dan tuli. Manusia lain dan alam tercipta tuk memenuhi kebutuhan (material) "ku". Semua mesti berkhidmat "padaku".
Akibat pengetahuan manusia, alam menjerit, para hewan, bebatuan, pepohonan dan juga manusia lain kehilangan kenyamanan dari hilangnya kedamaian. Tak jarang, alam memuntahkan "protes" dalam bentuk bencana-bencana. Mirisnya, kita tak mendengar jeritan dan protes alam. Sedikitpun. hati-hati kita tidak merasakan derita alam. Telinga dan hati kita disumbat oleh bising deru teknologi.
Harapan dan cita ideal manusia juga belum berbeda dengan harapan dan cita ideal para hewan, masih berputar-putar pada kenikmatan materi. Seolah-olah, tidak ada lagi kenikmatan diluar kenikmatan makan, minum, tidur, kawin dan popularitas.
Lihatlah konsepsi mereka perihal Tuhan dan syurga. Tuhan tak lebih dari sekedar "penyedia jasa" makanan yang lezat dan bidadari-bidadari yang selalu perawan. Kenikmatan syurgawi adalah kenikmatan duniawi dengan kuantitas dan kualitas yang jauh lebih besar. Mereka melakukan apa yang kita sebut dengan "duniaisasi ukhrawi", sebuah kesesatan nalar.
Walhasil, seperti yang dikatakan Muthahhari, manusia-manusia berilmu tersebut seperti para pemabuk yang kejam dengan sebilah pedang tajam di genggaman. Tentu, pedang tersebut tidak hanya melukai orang lain, tetapi juga melukai diri sendiri. Atau, seperti para pencuri di gelap malam dengan obor di tangan. Berbekal cahaya obor, pencuri akan mencuri segalanya.
Senada dengan ungkapan Sartre di atas, Imam Khumaini mengatakan dalam salah satu ceramahnya "olem syudan ce oson ast, inson syudan ce sakht ast (betapa mudah menjadi berilmu, betapa sulit menjadi manusia).
Yah, yang urgen bukan seberapa banyak yang kita ketahui dan miliki, tapi seberapa dalam kita menjadi manusia dan mencipta kehidupan insani. Kehidupan bukan tentang apakah kau telah terbang tinggi ke langit melampaui seeokor burung, bukan pula tentang apakah kau telah berenang dalam ke dasar laut melebihi seekor ikan. Kehidupan adalah tentang apakah kau telah berjalan di bumi sebagai manusia.
*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar