Sabtu, 17 Agustus 2019

BEBAS ATAU TERTAWAN

Terkadang kita melihat ada orang yang ditahan, namun sesungguhnya ia bebas dan merdeka. Ada pula orang yang bebas, namun sesungguhnya ia tertahan. Oleh karena itu, kita harus memaknai arti ‘bebas dan merdeka’ sebelum mengevaluasi diri; bebas atau tertawan kah kita.

Pada dasarnya ‘bebas’ memiliki arti ‘ketidakbutuhan’ pada segala sesuatu. Karena itu, bebas juga bermakna kekayaan. Kekayaan bukan bermakna memiliki segalanya, tetapi bermakna tidak butuh pada segalanya. Semakin tidak butuh manusia, semakin kaya dan bebas dirinya.Sebaliknya, semakin butuh manusia, semakin miskin dan terpenjara dirinya.

Dengan ini, kebebasan mutlak hanya milik Tuhan semata. Kebebasan yang dimiliki manusia adalah kebebasan semu, kebebasan dalam ketertawanan. Ia bebas dari satu hal, dan tertawan pada hal lainnya.

Hal ini yang mendorong Psikolog eropa Erick From untuk menulis buku “fear of freedom” yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “lari dari kebebasan”. Erick From meyakini, kebebasan adalah kemustahilan bagi manusia. Karena itu, kita harus lari dari kebebasan menuju ketertawanan. Tapi, ketertawanan yang mulia, yaitu ketertawanan pada kesempurnaan.

Mufassir dan filsuf besar Muslim Allamah Thobathobai mengatakan, manusia itu bebas,, namun tidak mandiri. Hal ini juga menyiratkan kebebasan semu manusia, kebebasan dalam ketertawanan. Yakni, manusia tidak mampu mengelola kebebasannya. Olehnya itu, ia harus menawankan dirinya pada wujud lain di luar dirinya, yang bisa mengarahkan gerak kebebasannya dengan benar.

Manusia-manusia yang bebas adalah mereka yang mengetahui kepada siapa dirinya harus tertawan dan menyerahkan gerak kebebasan semunya. Setelah mereka menemukan tempat bersandar itu, maka pada hakikatnya, mereka adalah orang-orang yang bebas, meskipun dirinya berada dalam kerangkeng penjara.

Namun sebaliknya, ketika mereka tidak menemukan sandaran hakiki itu, dan justru menjadikan hal-hal yang tidak hakiki sebagai sandaran, niscaya mereka adalah orang-orang yang terpenjara, kendatipun dirinya berkeliaran di alam bebas.

Inilah hakikat yang diisyaratkan Tuhan dalam kitabNya, "Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan/iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in".

Manusia merdeka adalah mereka yang mampu merealisasikan ayat di atas. Yakni, mereka yang menawankan dirinya pada Pemiliknya dan menjadi hamba-Nya. Mereka yang tidak menghamba pada sesama hamba.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar