Rabu, 14 Agustus 2019

NERAKA ADALAH PENYUCIAN JIWA

Telah maklum bahwa tindak eksploitasi yang dilakukan di dunia ini, akan memberikan efek buruk bagi jiwa. Sebaliknya, tindakan harmonisasi akan memberikan efek baik bagi jiwa. Dalam filsafat Sadra, efek baik-buruk tindakan disebut dengan fisik mitsali di alam mitsal (barzakh), dan fisik aqli di alam akal (akhirat).

Dengan kata lain, di dunia ini, manusia sedang membentuk fisik mitsali dan fisik aqli, yang kelak menyertai jiwanya ke alam barzakh dan alam akhirat. Karena itu, Mulla Sadra meyakini adanya kebangkitan jasmani. Yakni, akan ada fisik yang senantiasa menyertai jiwa di setiap level eksistensi, baik di level barzakh, maupun di level akhirat.

Menariknya, fisik yang menyertai jiwa di alam mitsal dan alam akal adalah hasil bentukan manusia di alam dunia. Sekali lagi, perbuatan buruk akan membentuk fisik mitsali dan fisik aqli yang menakutkan, sedang perbuatan baik akan mebentuk fisik mitsali dan fisik aqli yang menentramkan. Kedua fisik tersebut, niscaya akan disadari setiap manusia pasca kematian. Itulah mengapa Rumi memahami kematian sebagai cermin penampil hakikat diri.

Pada hakikatnya, surga adalah disadarinya aktualitas bentuk-bentuk indah fisik di alam akhirat, yang dengannya jiwa beroleh kebahagiaan. Kebahagiaan itu akan semakin bertambah, lantaran ia semakin dekat dengan jamaliah Tuhan. Adapun neraka adalah disadarinya bentuk-bentuk menakutkan fisik di alam akhirat, yang dengannya jiwa beroleh derita. Derita tersebut semakin bertambah, lantaran ia berada dalam naungan jalaliah Tuhan.

Fisik yang menakutkan di neraka adalah jelmaan perbuatan buruk semasa di dunia. Perbuatan buruk yang paling dominan di dunia ini, akan menjelma paling awal di akhirat kelak. Kemudian disusul oleh jelmaan perbuatan buruk yang paling dominan selanjutnya. Hal ini terus berlanjut, hingga seluruh perbuatan buruk menjelma.

Inilah yang dimaksud dengan ayat 'Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain' (An-nisa, 56) . Yakni, jelmaan perbuatan buruk yang pertama akan digantikan dengan jelmaan perbuatan buruk yang kedua, ketiga dan...  hingga tak ada lagi jelmaan perbuatan buruk yang tersisa.

Ini juga makna 'neraka adalah penyucian jiwa dari kekotoran'. Yakni, neraka adalah proses penyucian jiwa dari fisik-fisik yang menakutkan hasil jelmaan perbuatan² buruk. Proses penyucian (yang dalam bahasa agama disebut siksaan) tersebut terus berlanjut, hingga tak ada lagi jelmaan perbuatan buruk yang tersisa.

Saat itu, fisik jiwa yang menakutkan akan habis, dan hadirlah fisik-fisik indah jiwa. Jiwa kembali suci, kembali pada fitrah, kembali pada surga-Nya. Wahai jiwa-jiwa yang tenang, masuklah dalam surga-Ku.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar