Sabtu, 17 Agustus 2019

FILSAFAT, LOGIKA & EPISTEMOLOGI

 Selain memiliki tujuan, setiap disiplin ilmu juga memiliki objek kajian dan instrumen atau metode kajian. Diantara 8 pilar disiplin ilmu, para cendekia klasik menyebut ketiga hal ini (objek, instrumen dan tujuan) sebagai pilar esensial sebuah disiplin ilmu. Betapa tidak, disiplin ilmu terbedakan secara esensial dengan yang lainnya, berkat ketiga atau salah satu dari ketiga pilar tersebut.

Sosiologi, Antropologi dan Psikologi misalnya, kendatipun seobjek (sama² mengkaji manusia) & semetode (empirik), namun berbeda dari sisi tujuan dan tinjauan terhadap objek kajian. Sosiologi mengkaji manusia dari sisi relasi sosial, Antroplogi dari ranah budaya, dan Psikologi dari sisi fsikis manusia. Maka, berbeda pula tujuan yang ingin dicapai ketiganya.

Filsafat, Logika dan Epistemologi pun demikian. Sebagai disiplin ilmu, ketiganya memiliki objek, tujuan, dan instrumen/metode kajian. Telah maklum, akal dengan metode rasional adalah instrumen Filsafat, Logika dan Epistemologi. Kemudian, Logika dan Epistemologi mengkaji objek yang sama, yaitu pengetahuan, namun dari tinjauan yang berbeda. Dan pada akhirnya, meniscayakan tujuan yang juga berbeda.

Adapun filsafat, sebagai disiplin ilmu, juga tak kosong dari tiga esensi disiplin ilmu. Seperti disebutkan, akal dengan metode rasional adalah instrumen filsafat. Sedang realitas secara mutlak adalah objek kajian filsafat. Filsafat bertujuan menyingkap hakikat realitas sebagaimana realitas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Dengan kata lain, seperti kata Ibn Sina, filsafat berupaya membentuk manusia menjadi _alamun aqliun mudhohiyun lil alam al-aini_ ; yakni alam akal yang serupa dengan alam eksternal. Atau dalam bahasa filsafat kita, filsafat harmonisasi, filsafat akan membentuk diri menjadi "manusia semesta" atau "miniatur alam".

Walhasil, berfilsafat yakni berupaya menyingkap hakikat realitas sebagaimana realitas, dengan menggunakan akal. Dan itu, hanya mungkin jika;

1. Dalam proses berpikirnya, akal terhindar dari sesat-sesat nalar. Yah, hakikat realitas tak akan terpahami secara objektif, bila akal masih terjebak dalam sesat-sesat nalar. Karenanya, sebelum berfilsafat, sebelum berpikir tentang hakikat realitas, penting tuk mengkaji dan memahami logika dengan baik. Sebab logika, adalah sistem berpikir benar.

2. Neraca kebenaran dan nilai pengetahuan terpahami dengan baik. Tanpa mengetahui neraca kebenaran dengan benar, kita tak akan pernah tahu objektifitas pengetahuan yang kita miliki. Jadi, betapapun hakikat realitas telah kita singkap, tapi tak ada jaminan, apakah hasil singkapan kita objektif, atau tidak. Apalah artinya mengetahui hakikat realitas, bila ternyata pengetahuan tersebut non objektif.

Karena itu, sebelum berfilsafat, dibutuhkan sebuah ilmu yang menyajikan neraca kebenaran dan nilai pengetahuan dengan benar. Dan, ilmu tersebut adalah epistemologi.

Kesimpulannya, hakikat realitas akan terpahami dengan objektif bila kita berfilsafat dengan mengikuti sistem berpikir logis, dan dengan neraca epistemologis yang benar.

*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar