Rabu, 14 Agustus 2019

MANUSIA, BUDAYA DAN PERADABAN

Manusia adalah hewan, hal ini tak dapat disangkal. Ayam, kucing dll, adalah saudara sehewan manusia. Walau demikian, capaian-capaian manusia jauh meninggalkan capaian saudara-saudaranya yang tergabung dalam genus hewan.
Rahasia apa yang tak dibongkar manusia? Apa yang tak dicapai manusia? Manusia mampu membedah bumi, mengeluarkan ragam isi perut bumi berupa emas, minyak bumi dll, lalu digunakan tuk memenuhi kebutuhan yang mereka ciptakan sendiri. Manusia benar-benar menjadi penguasa dan pengontrol bumi. Rahasianya dimana? Pengetahuan.
Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya, yang dengan itu, manusia mencipta budaya dan peradaban, mengontrol dan menguasai dunia, menulis sejarah masa lalu dan merumuskan sejarah masa depan. Suatu hal yang tak mampu dilakukan saudara-saudara sehewan manusia.
Apa yang belum dilakukan manusia? Cuman satu, MENJADI MANUSIA. Kata Sartre, semua hal telah dipecahkan manusia, kecuali satu hal; bagaimana cara hidup [sebagai manusia]. Manusia berhasil terbang tinggi melampau burung, berhasil pula menyelam dalam ke dasar laut mengalahkan ikan. Tapi sayang, manusia gagal berjalan di bumi SEBAGAI MANUSIA. Manusia berhasil mencipta peradaban gedung-gedung, tapi gagal mencipta peradaban insani.
Lihatlah, budaya manusia semakin memoderen. Budaya baca tulis, makan, minum dan gaya berpakaian manusia semakin menggila. Tapi sayang, pola pikir dan pola laku manusia masih kuno, belum beranjak kemana-mana, masih setara dengan singa dan para domba.
Akibatnya, relasi yang terjalin antara manusia dengan manusia, pun manusia dengan alam adalah relasi eksploitatif. Manusia memandang manusia lain, terlebih lagi alam, sebagai objek mati, tanpa rasa, bisu dan tuli. Manusia lain dan alam tercipta tuk memenuhi kebutuhan (material) "ku". Semua mesti berkhidmat "padaku".
Akibat pengetahuan manusia dan atas nama pengembangan budaya dan peradaban, alam menjerit, para hewan, bebatuan, pepohonan dan juga manusia lain kehilangan kenyamanan dari hilangnya kedamaian. Tak jarang, alam memuntahkan "protes" dalam bentuk bencana-bencana. Mirisnya, kita tak mendengar jeritan dan protes alam, barang sedikitpun. Hati-hati kita tidak merasakan derita alam. Telinga-telinga kita disumbat oleh bising deru teknologi.
Harapan dan cita ideal manusia juga belum berbeda dengan harapan dan cita ideal para hewan, masih berputar-putar pada kenikmatan materi. Seolah-olah, tidak ada lagi kenikmatan di luar kenikmatan makan, minum, tidur, kawin dan popularitas.
Lihatlah konsepsi mereka perihal Tuhan dan syurga. Tuhan tak lebih dari sekedar "penyedia jasa" makanan yang lezat dan bidadari-bidadari yang selalu perawan. Kenikmatan syurgawi adalah kenikmatan duniawi dengan kuantitas dan kualitas yang jauh lebih besar. Mereka melakukan apa yang kita sebut dengan "duniaisasi ukhrawi", sebuah kesesatan nalar.
Seperti yang dikatakan Muthahhari, manusia-manusia berilmu tersebut seperti para pemabuk yang kejam dengan sebilah pedang tajam di genggaman. Tentu, pedang tersebut tidak hanya melukai orang lain, tetapi juga melukai diri sendiri. Atau, seperti para pencuri di gelap malam dengan obor di tangan. Berbekal cahaya obor, pencuri akan mencuri segalanya.
Senada dengan ungkapan Sartre di atas, seorang bijakawan berkata, betapa mudah menjadi berilmu, betapa sulit menjadi manusia. Yah, berilmu, mencipta budaya dan peradaban itu mudah. Yang sulit tapi urgen adalah menjadi manusia dan mewujudkan kehidupan manusiawi di bumi. Sebuah kehidupan yang setiap entitas di dalamnya beroleh kedamaian. Saat itu, manusia berhasil menjalankan perannya sebagai penjaga bumi (khalifah fil ardhi), bukan penguasa bumi.
Walhasil, budaya dan peradaban merupakan produk pengetahuan manusia. Olehnya itu, corak pengetahuan manusia akan menentukan arah budaya dan peradaban manusia. Pengetahuan yang bercorak materi, akan melahirkan budaya dan peradaban materi, budaya dan peradaban eksploitatif. Sebaliknya, corak pengetahuan Ilahi akan mewujudkan budaya dan peradaban insani. Budaya dan peradaban yang sejalan dengan jalan penghambaan, jalan harmonisasi.
*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar