Jodoh itu di tangan manusia atau di tangan Tuhan? Bagi kami, ini bukan dua hal yang bertentangan. Mengafirmasi jodoh di tangan manusia, bukan berarti menegaskan liburnya Tuhan dari perbuatan jodoh menjodohkan. Sebaliknya, meyakini bahwa jodoh di tangan Tuhan, bukan bermakna passifnya manusia.
Jodoh, atau pasangan hidup, tak ubahnya dengan rezeki dan kebutuhan² manusia yang lain. Dibutuhkan ikhtiar untuk menemukannya. Tuhan menciptakan alam ini dengan sistem kausalitas. Manusia tinggal memenuhi sebab², maka niscaya akibat² akan terwujud. Ketahuilah sebab² perjodohan, lalu penuhi itu, maka engkau akan menemukan jodohmu.
Apa saja sebab² perjodohan? Setidaknya dapat diringkas dalam dua sebab; sebab materi semisal interaksi sosial, menjalin interaksi dengan orang lain; dan sebab non materi seperti doa, mohonlah jodoh kepada Tuhan.
Jika sebab² perjodohan terpenuhi, maka terjadilah pernikahan. Pernikahan adalah akibat dari terpenuhinya sebab² perjodohan, bukan akibat dari cinta. Yakni, menikah bukan bukti cinta. Sebab boleh jadi, seseorang menikah tanpa landasan cinta, dan biasa disebut dengan pernikahan politis.
Bukti cinta adalah pengorbanan. Demi cinta, pecinta rela melepas dan tidak menikahi kekasihnya, jika itu yang terbaik bagi kekasih. Sebagai bukti cinta, pecinta rela menepis cintanya, bila itu yang diinginkan kekasih. Ekstrimnya, sekiranya Tuhan 'bahagia' bila aku tak mencintai dan tidak menyembah-Nya, niscaya tak akan kusembah dan tak akan kucinta Dia.
Menjadikan pernikahan sebagai bukti cinta, hanya akan mereduksi nilai cinta, dan membatasi keluasan cinta. Betapa tidak, pernikahan adalah relasi antar gender manusia. Tidak mungkin anda menikah dengan sesama jenis, tidak pula dengan bebatuan. Sedang cinta adalah relasi metagender, seseorang bisa mencintai segala yang ada, baik yang berfisik maupun yang tak berfisik, baik sesama jenis maupun yang berbeda jenis, tanpa ada tendensi untuk menikah.
Walhasil, tujuan hidup adalah menyempurnakan diri, bukan jodoh berjodoh, bukan pula nikah menikah. Jodoh dan nikah bukan hal yang mesti digalaukan hingga mati. Betapa banyak yang tak menikah, namun mereka mencapai maqom kedekatan pada Tuhan.
Segala hal mesti dijadikan sebagai sarana menyempurnakan diri (jiwa). Jabatan, lahan, kekayaan, bahkan raga, mesti melayani jiwa. Dengan begitu, diri akan menyempurna. Pun dengan pernikahan. Tak usah pikirkan lawan jenis, bila itu tak memberi kesempurnaan. Tak usah menikah, jika pernikahan justru semakin menjauhkan diri dari Tuhan.
Dari sini, terpahami falsafah dibolehkannya melepas jodoh (bercerai). Seperti kata Syariati, betapa banyak pasangan yang takut bercerai, karena alasan teologis (perceraian dibenci Tuhan). Akhirnya, fisik mereka tidur berdampingan, namun jiwa keduanya terpisah jauh.
Apalah artinya hidup bersama, jika jiwa saling terpisah, apalah artinya jalan berduaan, bila jiwa menempuh jalan yang saling berbeda. Benar, Tuhan membenci perceraian. Tapi Tuhan lebih benci lagi jika engkau mempertahankan sesuatu yang tak layak dipertahankan, Tuhan benci bila engkau menjadikan yang tak abadi sebagai harga mati.
*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar