Realitas memiliki dua level: level non materi dan level materi. Realitas non materi, hanya mungkin dipahami dengan ketajaman akal dan kejernihan jiwa. Mereka yang berparadigma materi, akan sulit memahami apatah lagi mengafirmasi realitas non materi. Terkecuali, jika realitas non materi tersebut dijelaskan dengan wasilah perkara-perkara materi.
Tuhan, jiwa insani, malaikat (yang dalam filsafat disebut akal satu, dua dst), pun juga dengan surga dan neraka adalah realitas² non materi. Maka segala teks yang seolah-olah menerangkan semua itu secara materi inderawi, mesti dimaknai secara metaforis, mesti ditakwil hingga tersucikan dari unsur² materi. Memaknai perkara non materi secara materi, adalah kesesatan nalar yang nyata adalah duniaisasi ukhrawi.
Surga-neraka misalnya, benar dideskripsikan secara materi. Surga dilukiskan sebagai kenikmatan materi, sebagai taman-taman hiburan, berisi sungai-sungai susu, madu dan pepohonan yang rindang. Di dalamnya, juga terdapat kamar-kamar yang dilengkapi dengan makanan-minuman dan para bidadari-bidadari perawan. Sebaliknya, neraka digambarkan sebagai tempat yang penuh derita,api yang menyala-nyala, rantai, belenggu dan palu yang lebih keras dari palu Thor. Namun, semua itu mesti dimaknai secara non materi, bahwa semua itu hanya perumpamaan.
Firman-Nya
مَثَلُ الْجَـنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ ۗ فِيْهَاۤ اَنْهٰرٌ مِّنْ مَّآءٍ غَيْرِ اٰسِنٍ ۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهٗ ۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَ ۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۗ وَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِى النَّارِ وَسُقُوْا مَآءً حَمِيْمًا فَقَطَّعَ اَمْعَآءَهُمْ
"Perumpamaan [ingat, hanya perumpamaan] taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, sungai-sungai susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai anggur yang lezat rasanya bagi para peminumnya, dan ada jugasungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan, dan ampunan dari Tuhan mereka. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih, sehingga ususnya terpotong-potong?" (QS. Muhammad 47: Ayat 15).
Dalam filsafat, ada yang disebut _taudhihul ma'qul bilmahsus_, yakni menjelaskan realitas non materi dengan perantaraan realitas materi. Ini perlu, sebab tidak semua manusia mampu memahami apatahlagi menerima realitas non materi yang teramat jauh dari pengindraan. Bukan berarti, realitas non materi tak bisa dijelaskan secara logis, tapi kapasitas pendengar lah yang sulit memahami realitas non materi. Materi dan indera begitu kuat membelenggu mereka, sehingga setiap realitas mesti bisa terbayangkan secara materi.
Bukankah sulit menjelaskan, bila sang anak yang masih kecil bertanya kepada orang tuanya, "mah bagaimana saya bisa lahir, bagaimana cara buat anak, atau darimana saya lahir"?. Jawabannya mungkin sederhana dan mudah, tapi kita mencari jawaban yang sesuai kapasitas anak. Dan itu yang rumit.
Pun juga ketika kita ingin menjelaskan nikmatnya ilmu pada anak². Kita menjelaskannya dengan perantaraan kenikmatan hal² materi, semisal nikmatnya menenggak air segar di kala dahaga mencekik. Yakni, kepada anak kecil dan mereka yang tuna akal, hal² tersebut mesti dijelaskan secara analogis, bukan secara logis.
Para sufi juga sering melukiskan realitas non materi yang mereka saksikan, dengan analogi² yang bersifat materi. Semisal, keindahan Tuhan dilukiskan dengan putih rambut Laila, sedang hitam rambutnya adalah simbol keagungan-Nya. Hitam rambut Laila menutupi putih wajahnya, yakni dibalik keagungan murka Tuhan terdapat keindahan kasih-Nya. Laila adalah Tuhan, kekasih yang digilai. Sedang Majnun adalah hamba yang menggila.
Belum lagi, umat yang dihadapi Rasul Saw pada kala itu adalah Arab jahiliah, dengan kondisi geografis yang semua kita tahu betapa tak seindah nusantara. Sungai, air, taman dam pepohonan adalah kenikmatan tersendiri bagi umat yang hidup pada kondisi geografis yang panas dan gersang. Pun juga, senggama adalah kenikmatan tersendiri bagi kepala yang memandang perempuan sebagai pemuas nafsu lelaki belaka.
Rasul Saw menghadapi umat, yang bukan hanya bermental anak kecil, tapi juga tuna akal. Dengan ini, kenikmatan² surga, derita² neraka, yang sejatinya non materi, digambarkan dengan kenikmatan dan derita² materi. Sebab begitulah, anak kecil tak ingin melakukan sesuatu, bila tak ada imbalannya. Dan imbalannya, mestilah hal² yang bisa disentuh, diraba dan diterawang.
Anehnya, kita hidup di nusantara, negeri yang hijau dengan hutan [walau sudah banyak yang digunduli seperti gundulnya mahasiswa baru], dan sungai yang jernih lagi menyejukkan [walau sudah tercemari dengan sampah dan limbah, hingga menyebabkan banjir]. Tapi mengapa kita masih berpandangan ala arab jahiliah. Mengapa kita masih berburu surga yang dipenuhi pepohonan, sungai dan bidadari² perawan. Sudahlah, itu buruan arab jahiliah.
Mungkin, bila Rasul hadir di era milenial seperti saat ini, maka surga dan neraka akan dilukiskan secara berbeda. Surga adalah warkop yang menyajikan kopi dan wifi gratis. Sedang neraka adalah pondok tanpa listrik, tanpa quota dan tanpa powerbank.
Para filosof yang akrab dengan akal dan tak asing dari perkara non materi, tentu tak menginginkan surga yang dipenuhi kenikmatan materi. Sebab, semua kenikmatan materi, apapun bentuk dan jenismya, berada pada level yang sama, level materi. Bagi para filosof, tidaklah berbeda nikmatnya antara menikah dengan gadis perawan atau dengan janda beruban. Semuanya sama, berada dalam level kenikmatan materi.
Oleh karena itu, teks² yang melukiskan surga dengan kenikmatan materi, atau neraka dengan siksa materi, mesti ditakwil hingga sesuai dengan realitas non materi. Surga adalah kebahagiaan jiwa yang dirasakan oleh jiwa-jiwa yang menyempurna lantaran dekat dengan Wujud Sempurna, Tuhan yang Agung. Sedang neraka adalah derita jiwa: derita yang dirasakan oleh jiwa-jiwa yang tidak sempurna lantaran jauh dari-Nya.
Surga [kebahagiaan jiwa] bukan tujuan para filosof. Tujuan para filosof adalah Wujud Sempurna. Mereka menyembah-Nya, agar mereka dekat dan semakin dekat kepada-Nya. Adapun surga berupa kebahagiaan jiwa, adalah konsekuensi logis dari penghambasn yang tulus. Karena itu, surga tidak perlu dijadikan tujuan.
*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
#filsafatharmonisasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar